Membentuk Kepribadian Islam
Terbentuknya pribadi-pribadi Islam yang kompeten, kredibel,
terpercaya dan berakhlak mulia merupakan pondasi awal dalam menciptakan
masyarakat yang sejahtera. Kepribadian Islam ini disebut juga syakhshiyyah
Rabbaniyyah atau Qur’an yang berjalan. Rasulullah adalah perwujudan riil
“Al-Qur’an Yang Berjalan”. Ketika Aisyah ra. ditanya tentang akhlak Rasulullah
maka beliau menjawab “Adalah akhlak Rasulullah Al-Qur’an”. (HR. Muslim)
Allah berfirman dalam QS. Al- Qalam ayat 4:
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OÏàtã ÇÍÈ
“ Dan
Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Untuk itulah Rasulullah diperintahkan untuk membentuk Al-Qur’an-Al-Qur’an
berjalan atau manusia-manusia Rabbani. Yaitu manusia-manusia yang memiliki
akhlak mulia berdasarkan nilai-nilai Rabbaniyyah (Ke-Tuhan-an).
Allah swt. berfiman dalam QS. Ali-Imran ayat 79:
(#qçRqä.... z`¿ÍhÏY»/u $yJÎ/ óOçFZä. tbqßJÏk=yèè? |=»tGÅ3ø9$# $yJÎ/ur óOçFZä. tbqßâôs? ÇÐÒÈ
"...Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”
Yang dimaksud manusia Rabbani ialah orang yang sempurna ilmu dan takwanya
kepada Allah swt. Sedangkan menurut tafsir Jalalain adalah ulama-ulama yang
beramal shaleh.
Manusia-manusia Rabbani tersebut paling tidak memiliki 10 ciri
utama yang meliputi:
1. Saliimul
Akidah. Yaitu akidahnya selamat. Ia adalah
seorang muslim yang mengenal dan memahami rukun Islam dengan baik dan benar.
Baik keimanan terhadap Allah, Malaikat, Rasul, hari Akhir dan Takdir. Serta
segala sesuatu yang berkaitan dengan rukum iman tersebut. Seperti surga,
neraka, setan, jin, alam kubur, mizan, hisab hingga shirat.
2. Shahiuhul
‘ibadah. Yaitu ibadahnya benar. Jauh dari
penyakit TBC (Taklid, Bid’ah, dan Churafat). Taklid yaitu melakukan sesuatu
dengan cara ikut-ikutan orang. Bid’ah adalah melaksanakan ibadah yang tidak adanya
tuntunannya dalam ajaran Islam, atau membuat ajaran-ajaran yang baru dalam
ibadah. Churafat adalah mempercayai cerita-cerita, dongeng-dongeng dan legenda
yang tidak ada asal usulnya, atau yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.
3.
Matiinul
khuluq. Yaitu mulia akhlaknya. Baik
terhadap diri sendiri, orang tua, keluarga, tetangga, teman, lingkungan hingga
terhadap hewan dan tumbuhan.
4.
Qawiyyul
jism. Yaitu kuat dan sehat fisiknya.
Mengkonsumsi makanan yang bergizi, berolahraga dan membersihkan badan secara
teratur serta menjauhi hal0hal yang membahayakan diri dari kesehatan.
5. Mutsaqqaful
fikri. Yaitu memiliki wawasan yang luas.
Khususnya dalam bidang agama dan pekerjaannya. Serta bidang lainnya yang dapat
mendukung hidupnya untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
6. Jihadun
lii nafsi. Yaitu berjihad terhadap dirinya
dari kejahatan hawa nafsu. Baik nafsul lawwamah (nafsu yang tidak pernah
puas) maupun nafsu amarah bi suu’ (nafsu yang ingin selalu marah dan
berbuat jelek). Serta mengarahkan nafsunya agar tetap dalam keadaan muthmainah
(tenang). Sekaligus menajaga hatinya agar selalu dalam keadaan bersih (Qalbun
salim). Dan menjauhkannya dari hati yang mati (Qalbun mayyit) dan
hati yang sakit (Qalbun maridh)
7. Harisun
‘alaa waqtihaa. Mampu menjaga
dan mengelola waktunya. Sehingga waktu dan umurnya betul-betul dimanfaatkan
untuk hal-hal yang berguna. Yaitu dengan membaginya menjadi tiga waktu.
Sepertiga untuk beribadah, sepertiga untuk bekerja dan sepertiga untuk
istirahat.
8. Qadirun
‘ala kasbi. Mampu berdiri diatas
kaki sendiri. Memiliki pekerjaan yang layak. Tidak bergantung kepada orang lain
dalam nafkah sehari-harinya.
9.
Husnu
Lii syu;unihi. Bagus
urusannya. Menepati waktu. Dapat memprioritaskan mana yang harus didahulukan.
Memahami dan dapat mebedakan antara yang mendesak, penting, perlu dan tidak
bermanfaat.
10.
Anfa’u
linnaas. Bermanfaat bagi orang lain.
Ditujukan dengan berusaha membantu orang lain dengan memiliki orientasi
pelayanan pelanggan.
Demikian ciri-ciri kepribadian Rabbani yang diharapkan dapat di implementasikan
oleh setiap generasi muda sebagai Agen of change yang akan melanjutkan
perjuangan nasib bangsa dimasa yang akan datang dengan memegang teguh
nilai-nilai Rabbani dalam setiap melakukan pekerjaan. Apapun profesinya, apapun
jabatannya, jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan.
wallahu a'lam.
Semoga Bermanfaat :)
