Minggu, 31 Januari 2016

Membentuk Kepribadian Islam

Membentuk Kepribadian Islam

Terbentuknya pribadi-pribadi Islam yang kompeten, kredibel, terpercaya dan berakhlak mulia merupakan pondasi awal dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera. Kepribadian Islam ini disebut juga syakhshiyyah Rabbaniyyah atau Qur’an yang berjalan. Rasulullah adalah perwujudan riil “Al-Qur’an Yang Berjalan”. Ketika Aisyah ra. ditanya tentang akhlak Rasulullah maka beliau menjawab “Adalah akhlak Rasulullah Al-Qur’an”. (HR. Muslim)
Allah berfirman dalam QS. Al- Qalam ayat 4:
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÍÈ  
“ Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Untuk itulah Rasulullah diperintahkan untuk membentuk Al-Qur’an-Al-Qur’an berjalan atau manusia-manusia Rabbani. Yaitu manusia-manusia yang memiliki akhlak mulia berdasarkan nilai-nilai Rabbaniyyah (Ke-Tuhan-an).
Allah swt. berfiman dalam QS. Ali-Imran ayat 79:

(#qçRqä.... z`¿ÍhŠÏY»­/u $yJÎ/ óOçFZä. tbqßJÏk=yèè? |=»tGÅ3ø9$# $yJÎ/ur óOçFZä. tbqßâôs? ÇÐÒÈ  

"...Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”

Yang dimaksud manusia Rabbani ialah orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah swt. Sedangkan menurut tafsir Jalalain adalah ulama-ulama yang beramal shaleh.
Manusia-manusia Rabbani tersebut paling tidak memiliki 10 ciri utama yang meliputi:
1.  Saliimul Akidah. Yaitu akidahnya selamat. Ia adalah seorang muslim yang mengenal dan memahami rukun Islam dengan baik dan benar. Baik keimanan terhadap Allah, Malaikat, Rasul, hari Akhir dan Takdir. Serta segala sesuatu yang berkaitan dengan rukum iman tersebut. Seperti surga, neraka, setan, jin, alam kubur, mizan, hisab hingga shirat.
2.   Shahiuhul ‘ibadah. Yaitu ibadahnya benar. Jauh dari penyakit TBC (Taklid, Bid’ah, dan Churafat). Taklid yaitu melakukan sesuatu dengan cara ikut-ikutan orang. Bid’ah adalah melaksanakan ibadah yang tidak adanya tuntunannya dalam ajaran Islam, atau membuat ajaran-ajaran yang baru dalam ibadah. Churafat adalah mempercayai cerita-cerita, dongeng-dongeng dan legenda yang tidak ada asal usulnya, atau yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.
3.      Matiinul khuluq. Yaitu mulia akhlaknya. Baik terhadap diri sendiri, orang tua, keluarga, tetangga, teman, lingkungan hingga terhadap hewan dan tumbuhan.
4.      Qawiyyul jism. Yaitu kuat dan sehat fisiknya. Mengkonsumsi makanan yang bergizi, berolahraga dan membersihkan badan secara teratur serta menjauhi hal0hal yang membahayakan diri dari kesehatan.
5.  Mutsaqqaful fikri. Yaitu memiliki wawasan yang luas. Khususnya dalam bidang agama dan pekerjaannya. Serta bidang lainnya yang dapat mendukung hidupnya untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
6.  Jihadun lii nafsi. Yaitu berjihad terhadap dirinya dari kejahatan hawa nafsu. Baik nafsul lawwamah (nafsu yang tidak pernah puas) maupun nafsu amarah bi suu’ (nafsu yang ingin selalu marah dan berbuat jelek). Serta mengarahkan nafsunya agar tetap dalam keadaan muthmainah (tenang). Sekaligus menajaga hatinya agar selalu dalam keadaan bersih (Qalbun salim). Dan menjauhkannya dari hati yang mati (Qalbun mayyit) dan hati yang sakit (Qalbun maridh)
7.    Harisun ‘alaa waqtihaa. Mampu menjaga dan mengelola waktunya. Sehingga waktu dan umurnya betul-betul dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna. Yaitu dengan membaginya menjadi tiga waktu. Sepertiga untuk beribadah, sepertiga untuk bekerja dan sepertiga untuk istirahat.
8.  Qadirun ‘ala kasbi. Mampu berdiri diatas kaki sendiri. Memiliki pekerjaan yang layak. Tidak bergantung kepada orang lain dalam nafkah sehari-harinya.
9.      Husnu Lii syu;unihi. Bagus urusannya. Menepati waktu. Dapat memprioritaskan mana yang harus didahulukan. Memahami dan dapat mebedakan antara yang mendesak, penting, perlu dan tidak bermanfaat.
10.  Anfa’u linnaas. Bermanfaat bagi orang lain. Ditujukan dengan berusaha membantu orang lain dengan memiliki orientasi pelayanan pelanggan.

Demikian ciri-ciri kepribadian Rabbani yang diharapkan dapat di implementasikan oleh setiap generasi muda sebagai Agen of change yang akan melanjutkan perjuangan nasib bangsa dimasa yang akan datang dengan memegang teguh nilai-nilai Rabbani dalam setiap melakukan pekerjaan. Apapun profesinya, apapun jabatannya, jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan.
wallahu a'lam.

Semoga Bermanfaat :)