Hari
raya Idulfitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam, setelah berpuasa
penuh sebulan lamanya, menahan lapar dan haus serta menahan nafsu, memperbanyak
amal ibadah dan lain sebagainya. Hari dimana umat Islam berkumpul bersama sanak
saudara, tertawa, bergembira saling bermaafan. Tak lupa juga “mudik” menjadi
hal yang sakral dalam berlebaran. Ternyata aplikasi video call dan kecanggihan
teknologi lainnya tak bisa menggantikan momen kebahagiaan saat berjumpa dengan sanak
saudara.
Masih
dalam suasana Lebaran, namun beberapa hari setelah melaksanakan salat Idulfitri
banyak kabar duka yang datang silih berganti. Sudah tiga teman yang mengatakan “Hari
raya tahun ini banyak orang yang meninggal ya...”. Saya rasa bukan hanya
saat-saat lebaran saja banyak orang yang meninggal, tapi setiap hari ada
ratusan bahkan ribuan orang yang meninggal di belahan bumi lainnya. Hanya saja
kabar duka yang hari ini terjadi ada diantara saudara, teman atau kerabat dekat
kita. Berbagai macam sebab meninggalnya, ada karena kecelakaan, ada karena sakit, bahkan
ada juga yang sedang sehat, malam harinya meninggal. Semoga Allah swt. menerima
amal ibadah mereka dan meninnggal dalam keadaan Husnul Khotimah.
Aamiin... (Allahummaghfirlahum warhamhum wa’aafihi wa’fu’anhum)
Ada
beberapa hal yang menjadi tradisi masyarakat Indonesia pada saat lebaran, yaitu
tradisi mudik dan halal bi halal. Tapi kali ini ada hal baru yang harus
dijadikan sebagai tradisi dalam perayaan hari raya Idulfitri, yaitu tradisi
mengingat mati. Kalau tradisi mudik dan halal bihala dilakukan secara
beramai-ramai, namun tradisi mengingat mati dilakukan secara sendiri-sendiri,
yakni dengan muhasabah diri. Belum tentu di hari yang Fitri tahun depan kita
bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan sanak saudara. Ketika “mengingat mati”
sudah menjadi tradisi, maka kita akan lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih
berhati-hati dalam bertindak, serta selalu menjaga kualitas ibadah sebagaimana
kita beribadah pada saat bulan Ramadhan.
Bisa
jadi kita tidak lagi bertemu dengan Ramadhan tahun depan atau bisa jadi kita
tidak sampai bertemu dengan hari raya Idulfitri tahun depan. Kematian tak pandang usia, kematian juga tidak
bisa diprediksi kapan dan dimana terjadinya, “Maka jika datang waktu
kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan mendahulukannya sedikitpun”
(QS. An-Nahl: 61) , namun kematian pasti akan terjadi. “Setiap yang bernyawa
akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan” (QS. Al-‘Ankabut:
57). Maka sudah seharusnya kita beramal dengan sebaik baiknya dalam
menghadapi kematian “Maha suci Allah yang menguasai segala kerajaan, dan Dia
Mahakuasa atas segala sesuatu, yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji
kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha
Pengampun” (QS. Al-Mulk :1-2).
Dalam
tradisi mengingat mati di hari yang Fitri ini mari kita bersama-sama saling
memaafkan dan selalu menjaga hubungan baik dengan manusia (silaturrahmi, tolong
menolong, dll.) dan selalu menjaga hubungan baik dengan Allah swt. (sholat tepat
waktu, puasa, taubat, menjaga niat, dll.). Sebagaimana pedoman dalam menjalin
hubungan baik dengan Allah (Hablum minallah) dan menjalin hubungan baik dengan
manusia (Hablum minannas) “Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, Ibnu
sabildan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An-Nisaa’ : 36).
Wallahua’lam...
Semoga
Bermanfaat.
