Jumat, 25 November 2016

Keteladanan Guru dalam Pembentukan Akhlakul Karimah Siswa





Secara sederhana agar terlaksananya pembelajaran maka harus ada pendidik, peserta didik dan materi yang diajarkan. Namun dalam beberapa materi pelajaran tentunya guru tidak hanya memberikan konsep-konsep pemahaman dan  nalar siswa, namun guru harus mampu menampilkan apa yang harus diajarkan melalui sikap dan pengalaman guru yang harus diajarkan diperlihatkan kepada peserta didik,agar peserta didik dapat meneladani perilaku-perilaku yang ditampilkan oleh guru dalam keseharian.

Secara etimologi dalam Kamus Besara Bahasa Indonesia, kata “teladan” memiliki arti sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh tentang sifat, perbuatan, kelakuan dan sebagainya. Keteladanan adalah cara yang paling efektif dalam mensukseskan suatu kepemimpinan. Tidak menguras energi dengan mengobral kata-kata. Bahasa keteladanan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan. “lisanul hal afshohu min lisanil maqal” (bahasa kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengukuti secara alamiah sesuai dengan  keadaan tonggak tersebut. Apabila tonggak tersebut lurus, maka lurus pula bayangan, apabila miring tonggak tersebut miring, maka miring pula bayangannya. “kaifa yastaqimu azzilunwanal udunawaj” (bagaimana mungkin bayangan akan lurus bila tonggaknya bengkok”

Mendidik dengan contoh (keteladanan) adalah suatu metode pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya. Segala yang di contohkan oleh Rasulullah saw. dalam kehidupannya merupakan cerminan kandungan Alquran secara utuh sebagaimana firman Allah swt :
 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab : 21)
Gagasan mengenai pendidik sebagai teladan, sebagaimana Nabi menjadi uswah al-hasanah, sekalipun tidak seratus persen meniru Nabi saw, tetapi paling tidak memiliki akhlak yang dapat diterima masyarakat Islam merupakan sesuatu yang perlu dipertahanklan, mulai dari segi moral keilmuan sampai pada perkataan, perbuatan, pergaulan bahkan dalan berbusana. Adalah tidak wajar jika seorang pendidik Muslimah misalnya berani tampil sebagai pendidik, padahal dia masih gemar menggunakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dihadapan yang bukan muhrimnya.
Sebagai pendidik ideal, Rasulullah saw. juga memiliki akhlak yang mulia, selanjutnya deskripsi kepribadian Rasulullah yang wajib diteladani dapat dilihat dari empat aspek yaitu:
1.      Kesempurnaan bentuk penciptaan Rasulullah saw. meliputi : Rasulullah memiliki sikap yang tenang, bersikap terbuka, memiliki kebiasaan menerima (menyambut) siapapun dengan baik, mampu menjadikan hati manusia cendrung untuk selalu mengikuti beliau, patuh terhadap keputusan beliau, serta gigih dan tabah dalam menanggung penderitaan dan musibah.
2.      Kesempurnaan akhlak Rasulullah saw. meliputi: Kekuatan akal, ketajaman perasaan dan ketetapan firasat, tanggunh dalam menghadapi kesulitan, zuhud, qana’ah, tawadhu’, santun dan tenang dalam menghadapi persoalan, menajga dan menpati janji.
3.      Kesempurnaan perkataan Rasulullah saw. meliputi: Rasulullah telah diberi kesempurnaan oleh Allah swt. berupa hikmah yang nyata dan ilmu pengetahuan yang melimpahruah, memiliki kapabilitas memori hafalan yang sangat kuat, kemampuan Rasulullah saw. dalam merumuskan ketentuan-ketentuan hukum berdasarkan argumen-argumen dan alasan-alasan yang kuat dan jelas, serta dapat diterima oleh akal sehat yang rasional, selalu menjawab setiap pertanyaan dengan kata-kata yang sangat jelas, selalu terhindar dari kesalahan berbicara serta tidak pernah berdusta dan sangat selektif dalam memilih kosa kata
4.      Kesempurnaan perilaku Rasulullah saw.meliputi: Rasulullah saw. memiliki perangai yang sangat baik dan benar, senantiasa berlaku adil dan tidak pilih kasih, selalu menganjurkan sahabatnya bersikap netral dalam menyikapi dunia dan akhirat, menjelaskan petunjuk agama dan konsekuensinya, sangat gigih dalam menghadapi musuhnya, memiliki sifat dermawan dan sangat pemurah.[1]
Demikian deskripsi kepribadian Rasulullah saw. yang sangat sempurna, walaupun tidak ada yang dapat menyerupai pribadi beliau, sudah seharusnya sebagai seorang pendidik dapat meneladani nilai-nilai pribadi beliau yang dapat diterima di lingkungan sekolah, seperti perbuatan, ucapan, penampilan dan cara menghukum dan memberi penghargaan kepada peserta didik yang pantas, khususnya saat mengajar dan berada dihadapan peserta didik maupun pendidik lainnya.

Maka dapat disimpulkan keteladanan adalah segala keadaan seseorang yang patut atau pantas untuk ditiru atau diikuti dalam melakukan kebaikan yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku, sebagai seorang pendidik sudah seharusnya memiliki kepribadian yang terpuji yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Untuk itu jika seorang guru ingin menjadi teladan dan memiliki kepribadian yang mulia hendaklah meneladani kepribadian Rasulullah saw sebagai pendidik ideal.

Nah, lalu bagaimanakah membentuk akhlakul karimah siswa?
Menutut Dr,Ratna megawangi, Ph.D seorang feminis Indonesia dan pelopor pengembangan pendidikan holistik di Indonesia menjelaskan, ada 3 tahapan dalam membentuk karakter atau akhlakul karimah siswa:
1.      moral knowing, memahamkan dengan baik pada anak arti kebaikan
2.      moral feeling, membangun kecintaan berprilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk berprilaku baik
3.      moral action, bagaimana membuat pengetahuan moral menjadi tindakan nyata. sehingga akan terbentuk yang namanya moral behaviour, yakni kebiasaan berprilaku baik .

Jauh berabad-abad silam Islam telah memperhatikan metode pembentukan akhlakul karimah,  berlandaskan firman Allah swt. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan  pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl :125)

Pada ayat tersebut maksud dari “Hikmah” ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Ada tiga cara dalam memberikan pengajaran kepada anak. pertama dengan hikmah, kedua dengan memberikan pelajaran yang baik dan ketiga dengan berdebat atau berdiskusi dengan cara yang baik pula. Seyogianya para pendidik mampu mengamalkan ayat tersebut dalam menjalankan tugasnya yang mulia, yakni: mencerdaskan anak bangsa. (Cerdas intelektual, cerdas spiritual dan cerdas emosional).

Akhirnya, Keteladanan adalah perilaku yang terpuji dan disenangi karena sesuai dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Menjalankan keteladanan merupakan cara yang bisa dulakukan para pendidik dalam memotivasi para siswa untuk lebih gigih dalam berjuang, giat dalam belajar, rajin dalam berusaha dan tekun dalam beribadah menuju masa depan yang cerah dan menjanjikan, sehingga diharapkan mampu terwujudnya generasi Islam yang memiliki Akhlakul karimah.

Wallahua’lam bisshowabi......

SELAMAT HARI GURU KE 71 TAHUN.
“Tetaplah menjadi Teladan, dimanapun dan sampai kapanpun”

ig         : @ummimawaddah94
twitter : ummimawaddah / @ummimawaddah94
fb         : Ummi Mawaddah Twelsafor
BBM   : D63630D7
email   : ummimawaddah94@gmail.com



[1]H. Mochtar Zoerni. 2012.  40 Metode Pendidikan dan Pengajaran Rasulullah saw. Bandung:Irsyad Baitussalam, h. 52.

Keteladanan Guru dalam Pembentukan Akhlakul Karimah Siswa





Secara sederhana agar terlaksananya pembelajaran maka harus ada pendidik, peserta didik dan materi yang diajarkan. Namun dalam beberapa materi pelajaran tentunya guru tidak hanya memberikan konsep-konsep pemahaman dan  nalar siswa, namun guru harus mampu menampilkan apa yang harus diajarkan melalui sikap dan pengalaman guru yang harus diajarkan diperlihatkan kepada peserta didik,agar peserta didik dapat meneladani perilaku-perilaku yang ditampilkan oleh guru dalam keseharian.

Secara etimologi dalam Kamus Besara Bahasa Indonesia, kata “teladan” memiliki arti sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh tentang sifat, perbuatan, kelakuan dan sebagainya. Keteladanan adalah cara yang paling efektif dalam mensukseskan suatu kepemimpinan. Tidak menguras energi dengan mengobral kata-kata. Bahasa keteladanan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan. “lisanul hal afshohu min lisanil maqal” (bahasa kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengukuti secara alamiah sesuai dengan  keadaan tonggak tersebut. Apabila tonggak tersebut lurus, maka lurus pula bayangan, apabila miring tonggak tersebut miring, maka miring pula bayangannya. “kaifa yastaqimu azzilunwanal udunawaj” (bagaimana mungkin bayangan akan lurus bila tonggaknya bengkok”

Mendidik dengan contoh (keteladanan) adalah suatu metode pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya. Segala yang di contohkan oleh Rasulullah saw. dalam kehidupannya merupakan cerminan kandungan Alquran secara utuh sebagaimana firman Allah swt :
 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab : 21)
Gagasan mengenai pendidik sebagai teladan, sebagaimana Nabi menjadi uswah al-hasanah, sekalipun tidak seratus persen meniru Nabi saw, tetapi paling tidak memiliki akhlak yang dapat diterima masyarakat Islam merupakan sesuatu yang perlu dipertahanklan, mulai dari segi moral keilmuan sampai pada perkataan, perbuatan, pergaulan bahkan dalan berbusana. Adalah tidak wajar jika seorang pendidik Muslimah misalnya berani tampil sebagai pendidik, padahal dia masih gemar menggunakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dihadapan yang bukan muhrimnya.
Sebagai pendidik ideal, Rasulullah saw. juga memiliki akhlak yang mulia, selanjutnya deskripsi kepribadian Rasulullah yang wajib diteladani dapat dilihat dari empat aspek yaitu:
1.      Kesempurnaan bentuk penciptaan Rasulullah saw. meliputi : Rasulullah memiliki sikap yang tenang, bersikap terbuka, memiliki kebiasaan menerima (menyambut) siapapun dengan baik, mampu menjadikan hati manusia cendrung untuk selalu mengikuti beliau, patuh terhadap keputusan beliau, serta gigih dan tabah dalam menanggung penderitaan dan musibah.
2.      Kesempurnaan akhlak Rasulullah saw. meliputi: Kekuatan akal, ketajaman perasaan dan ketetapan firasat, tanggunh dalam menghadapi kesulitan, zuhud, qana’ah, tawadhu’, santun dan tenang dalam menghadapi persoalan, menajga dan menpati janji.
3.      Kesempurnaan perkataan Rasulullah saw. meliputi: Rasulullah telah diberi kesempurnaan oleh Allah swt. berupa hikmah yang nyata dan ilmu pengetahuan yang melimpahruah, memiliki kapabilitas memori hafalan yang sangat kuat, kemampuan Rasulullah saw. dalam merumuskan ketentuan-ketentuan hukum berdasarkan argumen-argumen dan alasan-alasan yang kuat dan jelas, serta dapat diterima oleh akal sehat yang rasional, selalu menjawab setiap pertanyaan dengan kata-kata yang sangat jelas, selalu terhindar dari kesalahan berbicara serta tidak pernah berdusta dan sangat selektif dalam memilih kosa kata
4.      Kesempurnaan perilaku Rasulullah saw.meliputi: Rasulullah saw. memiliki perangai yang sangat baik dan benar, senantiasa berlaku adil dan tidak pilih kasih, selalu menganjurkan sahabatnya bersikap netral dalam menyikapi dunia dan akhirat, menjelaskan petunjuk agama dan konsekuensinya, sangat gigih dalam menghadapi musuhnya, memiliki sifat dermawan dan sangat pemurah.[1]
Demikian deskripsi kepribadian Rasulullah saw. yang sangat sempurna, walaupun tidak ada yang dapat menyerupai pribadi beliau, sudah seharusnya sebagai seorang pendidik dapat meneladani nilai-nilai pribadi beliau yang dapat diterima di lingkungan sekolah, seperti perbuatan, ucapan, penampilan dan cara menghukum dan memberi penghargaan kepada peserta didik yang pantas, khususnya saat mengajar dan berada dihadapan peserta didik maupun pendidik lainnya.

Maka dapat disimpulkan keteladanan adalah segala keadaan seseorang yang patut atau pantas untuk ditiru atau diikuti dalam melakukan kebaikan yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku, sebagai seorang pendidik sudah seharusnya memiliki kepribadian yang terpuji yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Untuk itu jika seorang guru ingin menjadi teladan dan memiliki kepribadian yang mulia hendaklah meneladani kepribadian Rasulullah saw sebagai pendidik ideal.

Nah, lalu bagaimanakah membentuk akhlakul karimah siswa?
Menutut Dr,Ratna megawangi, Ph.D seorang feminis Indonesia dan pelopor pengembangan pendidikan holistik di Indonesia menjelaskan, ada 3 tahapan dalam membentuk karakter atau akhlakul karimah siswa:
1.      moral knowing, memahamkan dengan baik pada anak arti kebaikan
2.      moral feeling, membangun kecintaan berprilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk berprilaku baik
3.      moral action, bagaimana membuat pengetahuan moral menjadi tindakan nyata. sehingga akan terbentuk yang namanya moral behaviour, yakni kebiasaan berprilaku baik .

Jauh berabad-abad silam Islam telah memperhatikan metode pembentukan akhlakul karimah,  berlandaskan firman Allah swt. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan  pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl :125)

Pada ayat tersebut maksud dari “Hikmah” ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Ada tiga cara dalam memberikan pengajaran kepada anak. pertama dengan hikmah, kedua dengan memberikan pelajaran yang baik dan ketiga dengan berdebat atau berdiskusi dengan cara yang baik pula. Seyogianya para pendidik mampu mengamalkan ayat tersebut dalam menjalankan tugasnya yang mulia, yakni: mencerdaskan anak bangsa. (Cerdas intelektual, cerdas spiritual dan cerdas emosional).

Akhirnya, Keteladanan adalah perilaku yang terpuji dan disenangi karena sesuai dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Menjalankan keteladanan merupakan cara yang bisa dulakukan para pendidik dalam memotivasi para siswa untuk lebih gigih dalam berjuang, giat dalam belajar, rajin dalam berusaha dan tekun dalam beribadah menuju masa depan yang cerah dan menjanjikan, sehingga diharapkan mampu terwujudnya generasi Islam yang memiliki Akhlakul karimah.

Wallahua’lam bisshowabi......

SELAMAT HARI GURU KE 71 TAHUN.
“Tetaplah menjadi Teladan, dimanapun dan sampai kapanpun”

ig         : @ummimawaddah94
twitter : ummimawaddah / @ummimawaddah94
fb         : Ummi Mawaddah Twelsafor
BBM   : D63630D7
email   : ummimawaddah94@gmail.com



[1]H. Mochtar Zoerni. 2012.  40 Metode Pendidikan dan Pengajaran Rasulullah saw. Bandung:Irsyad Baitussalam, h. 52.