As-Syifa
Sabtu, 08 Oktober 2022
Jumat, 25 November 2016
Keteladanan Guru dalam Pembentukan Akhlakul Karimah Siswa
Secara sederhana agar
terlaksananya pembelajaran maka harus ada pendidik, peserta didik dan materi
yang diajarkan. Namun dalam beberapa materi pelajaran tentunya guru tidak hanya
memberikan konsep-konsep pemahaman dan
nalar siswa, namun guru harus mampu menampilkan apa yang harus diajarkan
melalui sikap dan pengalaman guru yang harus diajarkan diperlihatkan kepada
peserta didik,agar peserta didik dapat meneladani perilaku-perilaku yang ditampilkan
oleh guru dalam keseharian.
Secara etimologi dalam
Kamus Besara Bahasa Indonesia, kata “teladan” memiliki arti sesuatu yang patut
ditiru atau baik untuk dicontoh tentang sifat, perbuatan, kelakuan dan
sebagainya. Keteladanan adalah cara yang paling efektif dalam mensukseskan
suatu kepemimpinan. Tidak menguras energi dengan mengobral kata-kata. Bahasa
keteladanan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan. “lisanul hal afshohu min lisanil maqal” (bahasa
kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Keteladanan ibarat tonggak, dimana
bayangan akan mengukuti secara alamiah sesuai dengan keadaan tonggak tersebut. Apabila tonggak
tersebut lurus, maka lurus pula bayangan, apabila miring tonggak tersebut
miring, maka miring pula bayangannya. “kaifa
yastaqimu azzilunwanal udunawaj” (bagaimana mungkin bayangan akan lurus
bila tonggaknya bengkok”
Mendidik dengan contoh
(keteladanan) adalah suatu metode pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya.
Segala yang di contohkan oleh Rasulullah saw. dalam kehidupannya merupakan
cerminan kandungan Alquran secara utuh sebagaimana firman Allah swt :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”
(Q.S. Al-Ahzab : 21)
Gagasan
mengenai pendidik sebagai teladan, sebagaimana Nabi menjadi uswah al-hasanah,
sekalipun tidak seratus persen meniru Nabi saw, tetapi paling tidak memiliki
akhlak yang dapat diterima masyarakat Islam merupakan sesuatu yang perlu
dipertahanklan, mulai dari segi moral keilmuan sampai pada perkataan,
perbuatan, pergaulan bahkan dalan berbusana. Adalah tidak wajar jika seorang
pendidik Muslimah misalnya berani tampil sebagai pendidik, padahal dia masih
gemar menggunakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dihadapan yang
bukan muhrimnya.
Sebagai
pendidik ideal, Rasulullah saw. juga memiliki akhlak yang mulia, selanjutnya
deskripsi kepribadian Rasulullah yang wajib diteladani dapat dilihat dari empat
aspek yaitu:
1.
Kesempurnaan bentuk penciptaan
Rasulullah saw. meliputi : Rasulullah memiliki sikap yang tenang, bersikap
terbuka, memiliki kebiasaan menerima (menyambut) siapapun dengan baik, mampu
menjadikan hati manusia cendrung untuk selalu mengikuti beliau, patuh terhadap
keputusan beliau, serta gigih dan tabah dalam menanggung penderitaan dan musibah.
2.
Kesempurnaan akhlak Rasulullah saw.
meliputi: Kekuatan akal, ketajaman perasaan dan ketetapan firasat, tanggunh
dalam menghadapi kesulitan, zuhud, qana’ah, tawadhu’, santun dan
tenang dalam menghadapi persoalan, menajga dan menpati janji.
3.
Kesempurnaan perkataan Rasulullah saw.
meliputi: Rasulullah telah diberi kesempurnaan oleh Allah swt. berupa hikmah
yang nyata dan ilmu pengetahuan yang melimpahruah, memiliki kapabilitas memori
hafalan yang sangat kuat, kemampuan Rasulullah saw. dalam merumuskan ketentuan-ketentuan
hukum berdasarkan argumen-argumen dan alasan-alasan yang kuat dan jelas, serta
dapat diterima oleh akal sehat yang rasional, selalu menjawab setiap pertanyaan
dengan kata-kata yang sangat jelas, selalu terhindar dari kesalahan berbicara
serta tidak pernah berdusta dan sangat selektif dalam memilih kosa kata
4.
Kesempurnaan perilaku Rasulullah
saw.meliputi: Rasulullah saw. memiliki perangai yang sangat baik dan benar,
senantiasa berlaku adil dan tidak pilih kasih, selalu menganjurkan sahabatnya bersikap
netral dalam menyikapi dunia dan akhirat, menjelaskan petunjuk agama dan konsekuensinya,
sangat gigih dalam menghadapi musuhnya, memiliki sifat dermawan dan sangat
pemurah.[1]
Demikian deskripsi
kepribadian Rasulullah saw. yang sangat sempurna, walaupun tidak ada yang dapat
menyerupai pribadi beliau, sudah seharusnya sebagai seorang pendidik dapat
meneladani nilai-nilai pribadi beliau yang dapat diterima di lingkungan
sekolah, seperti perbuatan, ucapan, penampilan dan cara menghukum dan memberi
penghargaan kepada peserta didik yang pantas, khususnya saat mengajar dan
berada dihadapan peserta didik maupun pendidik lainnya.
Maka dapat disimpulkan
keteladanan adalah segala keadaan seseorang yang patut atau pantas untuk ditiru
atau diikuti dalam melakukan kebaikan yang sesuai dengan nilai-nilai dan
norma-norma yang berlaku, sebagai seorang pendidik sudah seharusnya memiliki
kepribadian yang terpuji yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Untuk itu jika
seorang guru ingin menjadi teladan dan memiliki kepribadian yang mulia
hendaklah meneladani kepribadian Rasulullah saw sebagai pendidik ideal.
Nah,
lalu bagaimanakah membentuk akhlakul karimah siswa?
Menutut Dr,Ratna
megawangi, Ph.D seorang feminis Indonesia dan pelopor pengembangan pendidikan
holistik di Indonesia menjelaskan, ada 3 tahapan dalam membentuk karakter atau
akhlakul karimah siswa:
1.
moral knowing, memahamkan dengan baik
pada anak arti kebaikan
2.
moral feeling, membangun kecintaan
berprilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk berprilaku
baik
3.
moral action, bagaimana membuat pengetahuan
moral menjadi tindakan nyata. sehingga akan terbentuk yang namanya moral
behaviour, yakni kebiasaan berprilaku baik .
Jauh berabad-abad silam
Islam telah memperhatikan metode pembentukan akhlakul karimah, berlandaskan firman Allah swt. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu
dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl :125)
Pada ayat tersebut
maksud dari “Hikmah” ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan
antara yang hak dengan yang bathil. Ada tiga cara dalam memberikan pengajaran
kepada anak. pertama dengan hikmah, kedua dengan memberikan pelajaran yang baik
dan ketiga dengan berdebat atau berdiskusi dengan cara yang baik pula.
Seyogianya para pendidik mampu mengamalkan ayat tersebut dalam menjalankan
tugasnya yang mulia, yakni: mencerdaskan anak bangsa. (Cerdas intelektual,
cerdas spiritual dan cerdas emosional).
Akhirnya, Keteladanan
adalah perilaku yang terpuji dan disenangi karena sesuai dengan nilai-nilai
kebaikan dan kebenaran. Menjalankan keteladanan merupakan cara yang bisa
dulakukan para pendidik dalam memotivasi para siswa untuk lebih gigih dalam
berjuang, giat dalam belajar, rajin dalam berusaha dan tekun dalam beribadah
menuju masa depan yang cerah dan menjanjikan, sehingga diharapkan mampu
terwujudnya generasi Islam yang memiliki Akhlakul karimah.
Wallahua’lam
bisshowabi......
SELAMAT
HARI GURU KE 71 TAHUN.
“Tetaplah
menjadi Teladan, dimanapun dan sampai kapanpun”
ig : @ummimawaddah94
twitter : ummimawaddah / @ummimawaddah94
fb : Ummi Mawaddah Twelsafor
BBM : D63630D7
email : ummimawaddah94@gmail.com
[1]H. Mochtar
Zoerni. 2012. 40 Metode Pendidikan
dan Pengajaran Rasulullah saw. Bandung:Irsyad Baitussalam, h. 52.
Keteladanan Guru dalam Pembentukan Akhlakul Karimah Siswa
Secara sederhana agar
terlaksananya pembelajaran maka harus ada pendidik, peserta didik dan materi
yang diajarkan. Namun dalam beberapa materi pelajaran tentunya guru tidak hanya
memberikan konsep-konsep pemahaman dan
nalar siswa, namun guru harus mampu menampilkan apa yang harus diajarkan
melalui sikap dan pengalaman guru yang harus diajarkan diperlihatkan kepada
peserta didik,agar peserta didik dapat meneladani perilaku-perilaku yang ditampilkan
oleh guru dalam keseharian.
Secara etimologi dalam
Kamus Besara Bahasa Indonesia, kata “teladan” memiliki arti sesuatu yang patut
ditiru atau baik untuk dicontoh tentang sifat, perbuatan, kelakuan dan
sebagainya. Keteladanan adalah cara yang paling efektif dalam mensukseskan
suatu kepemimpinan. Tidak menguras energi dengan mengobral kata-kata. Bahasa
keteladanan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan. “lisanul hal afshohu min lisanil maqal” (bahasa
kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Keteladanan ibarat tonggak, dimana
bayangan akan mengukuti secara alamiah sesuai dengan keadaan tonggak tersebut. Apabila tonggak
tersebut lurus, maka lurus pula bayangan, apabila miring tonggak tersebut
miring, maka miring pula bayangannya. “kaifa
yastaqimu azzilunwanal udunawaj” (bagaimana mungkin bayangan akan lurus
bila tonggaknya bengkok”
Mendidik dengan contoh
(keteladanan) adalah suatu metode pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya.
Segala yang di contohkan oleh Rasulullah saw. dalam kehidupannya merupakan
cerminan kandungan Alquran secara utuh sebagaimana firman Allah swt :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”
(Q.S. Al-Ahzab : 21)
Gagasan
mengenai pendidik sebagai teladan, sebagaimana Nabi menjadi uswah al-hasanah,
sekalipun tidak seratus persen meniru Nabi saw, tetapi paling tidak memiliki
akhlak yang dapat diterima masyarakat Islam merupakan sesuatu yang perlu
dipertahanklan, mulai dari segi moral keilmuan sampai pada perkataan,
perbuatan, pergaulan bahkan dalan berbusana. Adalah tidak wajar jika seorang
pendidik Muslimah misalnya berani tampil sebagai pendidik, padahal dia masih
gemar menggunakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dihadapan yang
bukan muhrimnya.
Sebagai
pendidik ideal, Rasulullah saw. juga memiliki akhlak yang mulia, selanjutnya
deskripsi kepribadian Rasulullah yang wajib diteladani dapat dilihat dari empat
aspek yaitu:
1.
Kesempurnaan bentuk penciptaan
Rasulullah saw. meliputi : Rasulullah memiliki sikap yang tenang, bersikap
terbuka, memiliki kebiasaan menerima (menyambut) siapapun dengan baik, mampu
menjadikan hati manusia cendrung untuk selalu mengikuti beliau, patuh terhadap
keputusan beliau, serta gigih dan tabah dalam menanggung penderitaan dan musibah.
2.
Kesempurnaan akhlak Rasulullah saw.
meliputi: Kekuatan akal, ketajaman perasaan dan ketetapan firasat, tanggunh
dalam menghadapi kesulitan, zuhud, qana’ah, tawadhu’, santun dan
tenang dalam menghadapi persoalan, menajga dan menpati janji.
3.
Kesempurnaan perkataan Rasulullah saw.
meliputi: Rasulullah telah diberi kesempurnaan oleh Allah swt. berupa hikmah
yang nyata dan ilmu pengetahuan yang melimpahruah, memiliki kapabilitas memori
hafalan yang sangat kuat, kemampuan Rasulullah saw. dalam merumuskan ketentuan-ketentuan
hukum berdasarkan argumen-argumen dan alasan-alasan yang kuat dan jelas, serta
dapat diterima oleh akal sehat yang rasional, selalu menjawab setiap pertanyaan
dengan kata-kata yang sangat jelas, selalu terhindar dari kesalahan berbicara
serta tidak pernah berdusta dan sangat selektif dalam memilih kosa kata
4.
Kesempurnaan perilaku Rasulullah
saw.meliputi: Rasulullah saw. memiliki perangai yang sangat baik dan benar,
senantiasa berlaku adil dan tidak pilih kasih, selalu menganjurkan sahabatnya bersikap
netral dalam menyikapi dunia dan akhirat, menjelaskan petunjuk agama dan konsekuensinya,
sangat gigih dalam menghadapi musuhnya, memiliki sifat dermawan dan sangat
pemurah.[1]
Demikian deskripsi
kepribadian Rasulullah saw. yang sangat sempurna, walaupun tidak ada yang dapat
menyerupai pribadi beliau, sudah seharusnya sebagai seorang pendidik dapat
meneladani nilai-nilai pribadi beliau yang dapat diterima di lingkungan
sekolah, seperti perbuatan, ucapan, penampilan dan cara menghukum dan memberi
penghargaan kepada peserta didik yang pantas, khususnya saat mengajar dan
berada dihadapan peserta didik maupun pendidik lainnya.
Maka dapat disimpulkan
keteladanan adalah segala keadaan seseorang yang patut atau pantas untuk ditiru
atau diikuti dalam melakukan kebaikan yang sesuai dengan nilai-nilai dan
norma-norma yang berlaku, sebagai seorang pendidik sudah seharusnya memiliki
kepribadian yang terpuji yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Untuk itu jika
seorang guru ingin menjadi teladan dan memiliki kepribadian yang mulia
hendaklah meneladani kepribadian Rasulullah saw sebagai pendidik ideal.
Nah,
lalu bagaimanakah membentuk akhlakul karimah siswa?
Menutut Dr,Ratna
megawangi, Ph.D seorang feminis Indonesia dan pelopor pengembangan pendidikan
holistik di Indonesia menjelaskan, ada 3 tahapan dalam membentuk karakter atau
akhlakul karimah siswa:
1.
moral knowing, memahamkan dengan baik
pada anak arti kebaikan
2.
moral feeling, membangun kecintaan
berprilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk berprilaku
baik
3.
moral action, bagaimana membuat pengetahuan
moral menjadi tindakan nyata. sehingga akan terbentuk yang namanya moral
behaviour, yakni kebiasaan berprilaku baik .
Jauh berabad-abad silam
Islam telah memperhatikan metode pembentukan akhlakul karimah, berlandaskan firman Allah swt. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu
dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl :125)
Pada ayat tersebut
maksud dari “Hikmah” ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan
antara yang hak dengan yang bathil. Ada tiga cara dalam memberikan pengajaran
kepada anak. pertama dengan hikmah, kedua dengan memberikan pelajaran yang baik
dan ketiga dengan berdebat atau berdiskusi dengan cara yang baik pula.
Seyogianya para pendidik mampu mengamalkan ayat tersebut dalam menjalankan
tugasnya yang mulia, yakni: mencerdaskan anak bangsa. (Cerdas intelektual,
cerdas spiritual dan cerdas emosional).
Akhirnya, Keteladanan
adalah perilaku yang terpuji dan disenangi karena sesuai dengan nilai-nilai
kebaikan dan kebenaran. Menjalankan keteladanan merupakan cara yang bisa
dulakukan para pendidik dalam memotivasi para siswa untuk lebih gigih dalam
berjuang, giat dalam belajar, rajin dalam berusaha dan tekun dalam beribadah
menuju masa depan yang cerah dan menjanjikan, sehingga diharapkan mampu
terwujudnya generasi Islam yang memiliki Akhlakul karimah.
Wallahua’lam
bisshowabi......
SELAMAT
HARI GURU KE 71 TAHUN.
“Tetaplah
menjadi Teladan, dimanapun dan sampai kapanpun”
ig : @ummimawaddah94
twitter : ummimawaddah / @ummimawaddah94
fb : Ummi Mawaddah Twelsafor
BBM : D63630D7
email : ummimawaddah94@gmail.com
[1]H. Mochtar
Zoerni. 2012. 40 Metode Pendidikan
dan Pengajaran Rasulullah saw. Bandung:Irsyad Baitussalam, h. 52.
Minggu, 11 September 2016
HAJI : MENGELOLA MASYARAKAT MENUJU KESEJAHTERAAN UMAT
Oleh: Ummi Mawaddah, SPd.I
“Dan
berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang
kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari
segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi
mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan
atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka
makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan
orang-orang yang sengsara dan fakir.” (Q.S
Al-Hajj : 27-18)
Sistem
sosial Islam memiliki ciri yang khas, yakni hak berbanding lurus dengan
kewajiban. Islam tidak menghendaki jika pengambilan hak tidak sesuai dengan
pelaksanaan kewajiban, begitu pula sebaliknya. Islam mengatur tentang hak dan
kewajiban dalam kehidupan, seperti hamba kepada Tuhan, anak kepada orang tua,
pemimpin kepada masyarakat dan sebagainya. Tingkat kesadaran dalam menjalankan
kewajiban salah satunya dipengaruhi oleh besarnya hak yang diterima. Hak
menjadi motivasi penting yang mendorong seseorang melakukan kewajibannya sebaik
mungkin. Apabila seorang pemimpin ingin sukses menjalankan program-programnya
maka ia harus menunaikan hak-hak anggotanya. Besarnya hak yang diperoleh
anggotanya akan mempengaruhi tingkat kesadaran anggota dalam menjalankan
kewajiban.
Ibadah
haji merupakan satu-satunya ibadah yang dalam satu waktu dan satu tempat
melibatkan kaum muslimin dalam jumlah yang besar. Tidak mudah mengelola manusia
dalam jumlah yang besar dengan berbagai karakter yang ada. Rasulullah saw.
ketika menunaikan ibadah haji diikuti sekitar seratus ribu jamaah. Suatu jumlah
jamaah yang cukup besar pada waktu itu.Dalam pelaksanaan ibadah haji Rasulullah
saw bersabda “Ambillah (contohlah) oleh kalian dariku dalam ibadah jahi
kalian”. Dalam pelaksanaan ibadah haji maka kita meneladani kepemimpinan
Rasulullah saw. yang pada saat itu memimpin seluruh para jamah haji, adapun
nilai-nilai kepemimpinan dari Nabi Muhammad saw dalam mengelola umat muslim
adalah:
1.
Pemimpin
adalah qudwah (teladan)
Keteladanan adalah cara yang paling efektif dalam mensukseskan
suatu kepemimpinan. Tidak menguras energi dengan mengobral kata0kata namun
meunjukkan dengan sikap dan perbuatan nyata. Keteladanan ibarat tonggak, dimana
bayang-banyang akan selalu mengikuti tonggak tersebut, “Kaifa yastaqimu al
dzillu wa al’uudu a’waj”, bagaimana mungkin bayangan akan lurus bila
tonggaknya bengkok. Nilai-nilai keteladanan Nabi saw. dalam melaksanakan ibadah
haji dapat dilihat dalam HR.Shahih Bukhari, saat tahallul diperbolehkan dengan
cara memotong rambut (taqshir) atau menggunduli rambut kepala (halaq).
Tapi Rasulullah saw. menganjurkan untuk melakukan halaq serta
mendoakan mereka yang melakukan halaq.. Rasulullah tidak hanya
menganjurkan para sahabat, tapi beliau juga melakukan halaq yakni
menggunduli semua rambutnya.
2.
Mengarahkan
jamaah kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran
Tugas Rasulullah saw. sebagai Nabi utusan Allah swt. adalah menyeru
kebaikan dan mencegah kemungkaran baik pada saat pelaksanaan ibadah haji maupun
tidak saat melaksanakan jahi, karena kemungkaran dapat terjadi kapanpun dan
dimanapun. Diantara peran amar ma’ruf dan nahi munkar yang dilakukan Rasulullah
saw. pada saat ibadah haji dapat dilihat dalam Shahih Bukhari, bahwa pada saat
thawaf beliau melihat seseorang mengikat tangannya dengan tali atau benang dan
dihubungkan dengan orang lain. Nabi Muhammad memotong tali itu dan mengatakan ,
“Tuntunlah ia dengan tangannya”
3.
Pemimpin
yang Tawadhu’
Dalam pandangan Islam kepemimpinan itu merupakan taklif (beban)
bukan tasyfir (kehormatan).Tapi seringkali para pemimpin merasa
terhormat dengan predikat itu dan kadang merasa tidak terbebani oleh amanah
yang besar itu. Ada pemimpin yang ingin dihormati karena ia pemimpin, ada yang
ingin selalu dilayani karena ia pemimpin, ada yang ingin dipahami oleh
rakyatnya karena ia pemimpin, bahkan berani me-nuhankan dirinya seperti
Fir’aun, “(Seraya) berkata: Akulah Tuhanmu yang paling tinggi” QS.
An-Nazi’at : 24.
Dalam pelaksanaan ibadah haji, Rasulullah saw. sangat arif dan
tawadhu terhadap sahabat dan jamaah haji. Sebagaimana dalam Shahih Buhkari,
ketika Al-Abbas, paman Rasulullah saw. menawarkan kepada beliau minuman yang
berbeda dengan jamaahnya, Rasulullah saw. menolak dan meminta minuman yang sama
dengan yang dinikmati oleh jamaahnya.
4.
Pemimpin
yang Kasih Sayang
Islam adalah agama yang rahmat bagi seluruh alam. Nabi Muhammad
saw. merupaka pembawa rahmat dan penuh dengan kasih sayang, termasuk dalam
pelaksanaan ibadah haji. Ketika Rasulullah saw mempersilahkan jamaah yang lemah
untuk meninggalkan Mudzdalifah pada malam hari agar sampai di Mina mendahului
yang lain sehingga mampu melempar jumrah Aqabah dengan leluasa agar tidak
berdesakan dengan yang lain. Sikap yang ditunjukkan Nabi saw. merupakan bentuk
kasih sayangnya kepada jamaah yang sudah tua renta, sekaligus rahmat bagi umat
manusia lainnya.
Disamping
keteladanan kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Rasulullah, sesungguhnya haji
memiliki pengaruh yang positif bagi yang melaksanakannya saat kembali ke tanah
air. Dalam sejarah benyak dikisahkan bahwa tokoh-tokoh dan para pemimpin
pergerakan masyarakat di Indonesia adalah orang-orang yang memiliki pengalaman
beribadah haji, atau belajar di tanah suci serta menunaikan rukun Islam yang
kelima ini. Bahkan dahulu, kepemimpinan sosial berada di tangan para haji.
Setelah kembali dari tanah suci mereka mengambil peran-peran strategis
ditengah-tengah masyarakatnya. Bahkan banyak para pemimpin di Negara ini mulai
dari Kepling, Kades, Camat, Bupati, bahkan Presidan sudah pernah melaksanakan
ibadah Haji.
Seyogianya,
pemimpin menyadari betul akan hak-hak masyarakat, agar anggota masyarakat
menjalankan peran dan kewajibannya terhadap program-program pemimpinnya.
Diharapkan peran masyarakat sepulang melaksanakan ibadah haji mampu menjadi
pemimpin atau menjadi teladan yang
membawa perubahan di lingkungan sekitar guna terwujudnya masyarakat yang
sejahtera baik dari ilmunya, imannya, akhlaknya, semangatnya serta ekonominya.
Dalam
mengelola masyarakat, maka diperlukan seorang pemimpin yang berkarakter dan senantiasa
menjadikan Rasulullah saw. sebagai role model (teladan) dalam
menjalankan roda pemerintahan. Salah satu ciri masyarakat madani adalah
terbukanya ruang publik untuk menyuarakan aspirasi masyarakat terhadap kinerja
pemimpinnya. Menunaikan hak-hak masyarakat serta menjalankan kewajiban dengan
penuh amanah dan tanggung jawab. Selain itu, peran masing-masing pemimpin
sangat dibutuhkan dalam mengelola masyarakat menuju kesejahteraan, bukankah
dalam Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap
pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya”
Wallahua’lam
bisshowabi...
Semoga
Bermanfaat.
*Penulis
adalah guru PAI di SMA Negeri 3 Medan
Langganan:
Komentar (Atom)

