Jumat, 25 November 2016

Keteladanan Guru dalam Pembentukan Akhlakul Karimah Siswa





Secara sederhana agar terlaksananya pembelajaran maka harus ada pendidik, peserta didik dan materi yang diajarkan. Namun dalam beberapa materi pelajaran tentunya guru tidak hanya memberikan konsep-konsep pemahaman dan  nalar siswa, namun guru harus mampu menampilkan apa yang harus diajarkan melalui sikap dan pengalaman guru yang harus diajarkan diperlihatkan kepada peserta didik,agar peserta didik dapat meneladani perilaku-perilaku yang ditampilkan oleh guru dalam keseharian.

Secara etimologi dalam Kamus Besara Bahasa Indonesia, kata “teladan” memiliki arti sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh tentang sifat, perbuatan, kelakuan dan sebagainya. Keteladanan adalah cara yang paling efektif dalam mensukseskan suatu kepemimpinan. Tidak menguras energi dengan mengobral kata-kata. Bahasa keteladanan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan. “lisanul hal afshohu min lisanil maqal” (bahasa kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengukuti secara alamiah sesuai dengan  keadaan tonggak tersebut. Apabila tonggak tersebut lurus, maka lurus pula bayangan, apabila miring tonggak tersebut miring, maka miring pula bayangannya. “kaifa yastaqimu azzilunwanal udunawaj” (bagaimana mungkin bayangan akan lurus bila tonggaknya bengkok”

Mendidik dengan contoh (keteladanan) adalah suatu metode pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya. Segala yang di contohkan oleh Rasulullah saw. dalam kehidupannya merupakan cerminan kandungan Alquran secara utuh sebagaimana firman Allah swt :
 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab : 21)
Gagasan mengenai pendidik sebagai teladan, sebagaimana Nabi menjadi uswah al-hasanah, sekalipun tidak seratus persen meniru Nabi saw, tetapi paling tidak memiliki akhlak yang dapat diterima masyarakat Islam merupakan sesuatu yang perlu dipertahanklan, mulai dari segi moral keilmuan sampai pada perkataan, perbuatan, pergaulan bahkan dalan berbusana. Adalah tidak wajar jika seorang pendidik Muslimah misalnya berani tampil sebagai pendidik, padahal dia masih gemar menggunakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dihadapan yang bukan muhrimnya.
Sebagai pendidik ideal, Rasulullah saw. juga memiliki akhlak yang mulia, selanjutnya deskripsi kepribadian Rasulullah yang wajib diteladani dapat dilihat dari empat aspek yaitu:
1.      Kesempurnaan bentuk penciptaan Rasulullah saw. meliputi : Rasulullah memiliki sikap yang tenang, bersikap terbuka, memiliki kebiasaan menerima (menyambut) siapapun dengan baik, mampu menjadikan hati manusia cendrung untuk selalu mengikuti beliau, patuh terhadap keputusan beliau, serta gigih dan tabah dalam menanggung penderitaan dan musibah.
2.      Kesempurnaan akhlak Rasulullah saw. meliputi: Kekuatan akal, ketajaman perasaan dan ketetapan firasat, tanggunh dalam menghadapi kesulitan, zuhud, qana’ah, tawadhu’, santun dan tenang dalam menghadapi persoalan, menajga dan menpati janji.
3.      Kesempurnaan perkataan Rasulullah saw. meliputi: Rasulullah telah diberi kesempurnaan oleh Allah swt. berupa hikmah yang nyata dan ilmu pengetahuan yang melimpahruah, memiliki kapabilitas memori hafalan yang sangat kuat, kemampuan Rasulullah saw. dalam merumuskan ketentuan-ketentuan hukum berdasarkan argumen-argumen dan alasan-alasan yang kuat dan jelas, serta dapat diterima oleh akal sehat yang rasional, selalu menjawab setiap pertanyaan dengan kata-kata yang sangat jelas, selalu terhindar dari kesalahan berbicara serta tidak pernah berdusta dan sangat selektif dalam memilih kosa kata
4.      Kesempurnaan perilaku Rasulullah saw.meliputi: Rasulullah saw. memiliki perangai yang sangat baik dan benar, senantiasa berlaku adil dan tidak pilih kasih, selalu menganjurkan sahabatnya bersikap netral dalam menyikapi dunia dan akhirat, menjelaskan petunjuk agama dan konsekuensinya, sangat gigih dalam menghadapi musuhnya, memiliki sifat dermawan dan sangat pemurah.[1]
Demikian deskripsi kepribadian Rasulullah saw. yang sangat sempurna, walaupun tidak ada yang dapat menyerupai pribadi beliau, sudah seharusnya sebagai seorang pendidik dapat meneladani nilai-nilai pribadi beliau yang dapat diterima di lingkungan sekolah, seperti perbuatan, ucapan, penampilan dan cara menghukum dan memberi penghargaan kepada peserta didik yang pantas, khususnya saat mengajar dan berada dihadapan peserta didik maupun pendidik lainnya.

Maka dapat disimpulkan keteladanan adalah segala keadaan seseorang yang patut atau pantas untuk ditiru atau diikuti dalam melakukan kebaikan yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku, sebagai seorang pendidik sudah seharusnya memiliki kepribadian yang terpuji yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Untuk itu jika seorang guru ingin menjadi teladan dan memiliki kepribadian yang mulia hendaklah meneladani kepribadian Rasulullah saw sebagai pendidik ideal.

Nah, lalu bagaimanakah membentuk akhlakul karimah siswa?
Menutut Dr,Ratna megawangi, Ph.D seorang feminis Indonesia dan pelopor pengembangan pendidikan holistik di Indonesia menjelaskan, ada 3 tahapan dalam membentuk karakter atau akhlakul karimah siswa:
1.      moral knowing, memahamkan dengan baik pada anak arti kebaikan
2.      moral feeling, membangun kecintaan berprilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk berprilaku baik
3.      moral action, bagaimana membuat pengetahuan moral menjadi tindakan nyata. sehingga akan terbentuk yang namanya moral behaviour, yakni kebiasaan berprilaku baik .

Jauh berabad-abad silam Islam telah memperhatikan metode pembentukan akhlakul karimah,  berlandaskan firman Allah swt. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan  pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl :125)

Pada ayat tersebut maksud dari “Hikmah” ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Ada tiga cara dalam memberikan pengajaran kepada anak. pertama dengan hikmah, kedua dengan memberikan pelajaran yang baik dan ketiga dengan berdebat atau berdiskusi dengan cara yang baik pula. Seyogianya para pendidik mampu mengamalkan ayat tersebut dalam menjalankan tugasnya yang mulia, yakni: mencerdaskan anak bangsa. (Cerdas intelektual, cerdas spiritual dan cerdas emosional).

Akhirnya, Keteladanan adalah perilaku yang terpuji dan disenangi karena sesuai dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Menjalankan keteladanan merupakan cara yang bisa dulakukan para pendidik dalam memotivasi para siswa untuk lebih gigih dalam berjuang, giat dalam belajar, rajin dalam berusaha dan tekun dalam beribadah menuju masa depan yang cerah dan menjanjikan, sehingga diharapkan mampu terwujudnya generasi Islam yang memiliki Akhlakul karimah.

Wallahua’lam bisshowabi......

SELAMAT HARI GURU KE 71 TAHUN.
“Tetaplah menjadi Teladan, dimanapun dan sampai kapanpun”

ig         : @ummimawaddah94
twitter : ummimawaddah / @ummimawaddah94
fb         : Ummi Mawaddah Twelsafor
BBM   : D63630D7
email   : ummimawaddah94@gmail.com



[1]H. Mochtar Zoerni. 2012.  40 Metode Pendidikan dan Pengajaran Rasulullah saw. Bandung:Irsyad Baitussalam, h. 52.

Keteladanan Guru dalam Pembentukan Akhlakul Karimah Siswa





Secara sederhana agar terlaksananya pembelajaran maka harus ada pendidik, peserta didik dan materi yang diajarkan. Namun dalam beberapa materi pelajaran tentunya guru tidak hanya memberikan konsep-konsep pemahaman dan  nalar siswa, namun guru harus mampu menampilkan apa yang harus diajarkan melalui sikap dan pengalaman guru yang harus diajarkan diperlihatkan kepada peserta didik,agar peserta didik dapat meneladani perilaku-perilaku yang ditampilkan oleh guru dalam keseharian.

Secara etimologi dalam Kamus Besara Bahasa Indonesia, kata “teladan” memiliki arti sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh tentang sifat, perbuatan, kelakuan dan sebagainya. Keteladanan adalah cara yang paling efektif dalam mensukseskan suatu kepemimpinan. Tidak menguras energi dengan mengobral kata-kata. Bahasa keteladanan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan. “lisanul hal afshohu min lisanil maqal” (bahasa kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengukuti secara alamiah sesuai dengan  keadaan tonggak tersebut. Apabila tonggak tersebut lurus, maka lurus pula bayangan, apabila miring tonggak tersebut miring, maka miring pula bayangannya. “kaifa yastaqimu azzilunwanal udunawaj” (bagaimana mungkin bayangan akan lurus bila tonggaknya bengkok”

Mendidik dengan contoh (keteladanan) adalah suatu metode pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya. Segala yang di contohkan oleh Rasulullah saw. dalam kehidupannya merupakan cerminan kandungan Alquran secara utuh sebagaimana firman Allah swt :
 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab : 21)
Gagasan mengenai pendidik sebagai teladan, sebagaimana Nabi menjadi uswah al-hasanah, sekalipun tidak seratus persen meniru Nabi saw, tetapi paling tidak memiliki akhlak yang dapat diterima masyarakat Islam merupakan sesuatu yang perlu dipertahanklan, mulai dari segi moral keilmuan sampai pada perkataan, perbuatan, pergaulan bahkan dalan berbusana. Adalah tidak wajar jika seorang pendidik Muslimah misalnya berani tampil sebagai pendidik, padahal dia masih gemar menggunakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dihadapan yang bukan muhrimnya.
Sebagai pendidik ideal, Rasulullah saw. juga memiliki akhlak yang mulia, selanjutnya deskripsi kepribadian Rasulullah yang wajib diteladani dapat dilihat dari empat aspek yaitu:
1.      Kesempurnaan bentuk penciptaan Rasulullah saw. meliputi : Rasulullah memiliki sikap yang tenang, bersikap terbuka, memiliki kebiasaan menerima (menyambut) siapapun dengan baik, mampu menjadikan hati manusia cendrung untuk selalu mengikuti beliau, patuh terhadap keputusan beliau, serta gigih dan tabah dalam menanggung penderitaan dan musibah.
2.      Kesempurnaan akhlak Rasulullah saw. meliputi: Kekuatan akal, ketajaman perasaan dan ketetapan firasat, tanggunh dalam menghadapi kesulitan, zuhud, qana’ah, tawadhu’, santun dan tenang dalam menghadapi persoalan, menajga dan menpati janji.
3.      Kesempurnaan perkataan Rasulullah saw. meliputi: Rasulullah telah diberi kesempurnaan oleh Allah swt. berupa hikmah yang nyata dan ilmu pengetahuan yang melimpahruah, memiliki kapabilitas memori hafalan yang sangat kuat, kemampuan Rasulullah saw. dalam merumuskan ketentuan-ketentuan hukum berdasarkan argumen-argumen dan alasan-alasan yang kuat dan jelas, serta dapat diterima oleh akal sehat yang rasional, selalu menjawab setiap pertanyaan dengan kata-kata yang sangat jelas, selalu terhindar dari kesalahan berbicara serta tidak pernah berdusta dan sangat selektif dalam memilih kosa kata
4.      Kesempurnaan perilaku Rasulullah saw.meliputi: Rasulullah saw. memiliki perangai yang sangat baik dan benar, senantiasa berlaku adil dan tidak pilih kasih, selalu menganjurkan sahabatnya bersikap netral dalam menyikapi dunia dan akhirat, menjelaskan petunjuk agama dan konsekuensinya, sangat gigih dalam menghadapi musuhnya, memiliki sifat dermawan dan sangat pemurah.[1]
Demikian deskripsi kepribadian Rasulullah saw. yang sangat sempurna, walaupun tidak ada yang dapat menyerupai pribadi beliau, sudah seharusnya sebagai seorang pendidik dapat meneladani nilai-nilai pribadi beliau yang dapat diterima di lingkungan sekolah, seperti perbuatan, ucapan, penampilan dan cara menghukum dan memberi penghargaan kepada peserta didik yang pantas, khususnya saat mengajar dan berada dihadapan peserta didik maupun pendidik lainnya.

Maka dapat disimpulkan keteladanan adalah segala keadaan seseorang yang patut atau pantas untuk ditiru atau diikuti dalam melakukan kebaikan yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku, sebagai seorang pendidik sudah seharusnya memiliki kepribadian yang terpuji yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Untuk itu jika seorang guru ingin menjadi teladan dan memiliki kepribadian yang mulia hendaklah meneladani kepribadian Rasulullah saw sebagai pendidik ideal.

Nah, lalu bagaimanakah membentuk akhlakul karimah siswa?
Menutut Dr,Ratna megawangi, Ph.D seorang feminis Indonesia dan pelopor pengembangan pendidikan holistik di Indonesia menjelaskan, ada 3 tahapan dalam membentuk karakter atau akhlakul karimah siswa:
1.      moral knowing, memahamkan dengan baik pada anak arti kebaikan
2.      moral feeling, membangun kecintaan berprilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk berprilaku baik
3.      moral action, bagaimana membuat pengetahuan moral menjadi tindakan nyata. sehingga akan terbentuk yang namanya moral behaviour, yakni kebiasaan berprilaku baik .

Jauh berabad-abad silam Islam telah memperhatikan metode pembentukan akhlakul karimah,  berlandaskan firman Allah swt. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan  pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl :125)

Pada ayat tersebut maksud dari “Hikmah” ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Ada tiga cara dalam memberikan pengajaran kepada anak. pertama dengan hikmah, kedua dengan memberikan pelajaran yang baik dan ketiga dengan berdebat atau berdiskusi dengan cara yang baik pula. Seyogianya para pendidik mampu mengamalkan ayat tersebut dalam menjalankan tugasnya yang mulia, yakni: mencerdaskan anak bangsa. (Cerdas intelektual, cerdas spiritual dan cerdas emosional).

Akhirnya, Keteladanan adalah perilaku yang terpuji dan disenangi karena sesuai dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Menjalankan keteladanan merupakan cara yang bisa dulakukan para pendidik dalam memotivasi para siswa untuk lebih gigih dalam berjuang, giat dalam belajar, rajin dalam berusaha dan tekun dalam beribadah menuju masa depan yang cerah dan menjanjikan, sehingga diharapkan mampu terwujudnya generasi Islam yang memiliki Akhlakul karimah.

Wallahua’lam bisshowabi......

SELAMAT HARI GURU KE 71 TAHUN.
“Tetaplah menjadi Teladan, dimanapun dan sampai kapanpun”

ig         : @ummimawaddah94
twitter : ummimawaddah / @ummimawaddah94
fb         : Ummi Mawaddah Twelsafor
BBM   : D63630D7
email   : ummimawaddah94@gmail.com



[1]H. Mochtar Zoerni. 2012.  40 Metode Pendidikan dan Pengajaran Rasulullah saw. Bandung:Irsyad Baitussalam, h. 52.

Minggu, 11 September 2016

HAJI : MENGELOLA MASYARAKAT MENUJU KESEJAHTERAAN UMAT





Oleh: Ummi Mawaddah, SPd.I

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (Q.S Al-Hajj : 27-18)

Sistem sosial Islam memiliki ciri yang khas, yakni hak berbanding lurus dengan kewajiban. Islam tidak menghendaki jika pengambilan hak tidak sesuai dengan pelaksanaan kewajiban, begitu pula sebaliknya. Islam mengatur tentang hak dan kewajiban dalam kehidupan, seperti hamba kepada Tuhan, anak kepada orang tua, pemimpin kepada masyarakat dan sebagainya. Tingkat kesadaran dalam menjalankan kewajiban salah satunya dipengaruhi oleh besarnya hak yang diterima. Hak menjadi motivasi penting yang mendorong seseorang melakukan kewajibannya sebaik mungkin. Apabila seorang pemimpin ingin sukses menjalankan program-programnya maka ia harus menunaikan hak-hak anggotanya. Besarnya hak yang diperoleh anggotanya akan mempengaruhi tingkat kesadaran anggota dalam menjalankan kewajiban.

Ibadah haji merupakan satu-satunya ibadah yang dalam satu waktu dan satu tempat melibatkan kaum muslimin dalam jumlah yang besar. Tidak mudah mengelola manusia dalam jumlah yang besar dengan berbagai karakter yang ada. Rasulullah saw. ketika menunaikan ibadah haji diikuti sekitar seratus ribu jamaah. Suatu jumlah jamaah yang cukup besar pada waktu itu.Dalam pelaksanaan ibadah haji Rasulullah saw bersabda “Ambillah (contohlah) oleh kalian dariku dalam ibadah jahi kalian”. Dalam pelaksanaan ibadah haji maka kita meneladani kepemimpinan Rasulullah saw. yang pada saat itu memimpin seluruh para jamah haji, adapun nilai-nilai kepemimpinan dari Nabi Muhammad saw dalam mengelola umat muslim adalah:

1.      Pemimpin adalah qudwah (teladan)
Keteladanan adalah cara yang paling efektif dalam mensukseskan suatu kepemimpinan. Tidak menguras energi dengan mengobral kata0kata namun meunjukkan dengan sikap dan perbuatan nyata. Keteladanan ibarat tonggak, dimana bayang-banyang akan selalu mengikuti tonggak tersebut, “Kaifa yastaqimu al dzillu wa al’uudu a’waj”, bagaimana mungkin bayangan akan lurus bila tonggaknya bengkok. Nilai-nilai keteladanan Nabi saw. dalam melaksanakan ibadah haji dapat dilihat dalam HR.Shahih Bukhari, saat tahallul diperbolehkan dengan cara memotong rambut (taqshir) atau menggunduli rambut kepala (halaq). Tapi Rasulullah saw. menganjurkan untuk melakukan halaq serta mendoakan mereka yang melakukan halaq.. Rasulullah tidak hanya menganjurkan para sahabat, tapi beliau juga melakukan halaq yakni menggunduli semua rambutnya.

2.      Mengarahkan jamaah kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran
Tugas Rasulullah saw. sebagai Nabi utusan Allah swt. adalah menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran baik pada saat pelaksanaan ibadah haji maupun tidak saat melaksanakan jahi, karena kemungkaran dapat terjadi kapanpun dan dimanapun. Diantara peran amar ma’ruf dan nahi munkar yang dilakukan Rasulullah saw. pada saat ibadah haji dapat dilihat dalam Shahih Bukhari, bahwa pada saat thawaf beliau melihat seseorang mengikat tangannya dengan tali atau benang dan dihubungkan dengan orang lain. Nabi Muhammad memotong tali itu dan mengatakan , “Tuntunlah ia dengan tangannya”

3.      Pemimpin yang Tawadhu’
Dalam pandangan Islam kepemimpinan itu merupakan taklif (beban) bukan tasyfir (kehormatan).Tapi seringkali para pemimpin merasa terhormat dengan predikat itu dan kadang merasa tidak terbebani oleh amanah yang besar itu. Ada pemimpin yang ingin dihormati karena ia pemimpin, ada yang ingin selalu dilayani karena ia pemimpin, ada yang ingin dipahami oleh rakyatnya karena ia pemimpin, bahkan berani me-nuhankan dirinya seperti Fir’aun, “(Seraya) berkata: Akulah Tuhanmu yang paling tinggi” QS. An-Nazi’at : 24.
Dalam pelaksanaan ibadah haji, Rasulullah saw. sangat arif dan tawadhu terhadap sahabat dan jamaah haji. Sebagaimana dalam Shahih Buhkari, ketika Al-Abbas, paman Rasulullah saw. menawarkan kepada beliau minuman yang berbeda dengan jamaahnya, Rasulullah saw. menolak dan meminta minuman yang sama dengan yang dinikmati oleh jamaahnya.

4.      Pemimpin yang Kasih Sayang
Islam adalah agama yang rahmat bagi seluruh alam. Nabi Muhammad saw. merupaka pembawa rahmat dan penuh dengan kasih sayang, termasuk dalam pelaksanaan ibadah haji. Ketika Rasulullah saw mempersilahkan jamaah yang lemah untuk meninggalkan Mudzdalifah pada malam hari agar sampai di Mina mendahului yang lain sehingga mampu melempar jumrah Aqabah dengan leluasa agar tidak berdesakan dengan yang lain. Sikap yang ditunjukkan Nabi saw. merupakan bentuk kasih sayangnya kepada jamaah yang sudah tua renta, sekaligus rahmat bagi umat manusia lainnya.

Disamping keteladanan kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Rasulullah, sesungguhnya haji memiliki pengaruh yang positif bagi yang melaksanakannya saat kembali ke tanah air. Dalam sejarah benyak dikisahkan bahwa tokoh-tokoh dan para pemimpin pergerakan masyarakat di Indonesia adalah orang-orang yang memiliki pengalaman beribadah haji, atau belajar di tanah suci serta menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Bahkan dahulu, kepemimpinan sosial berada di tangan para haji. Setelah kembali dari tanah suci mereka mengambil peran-peran strategis ditengah-tengah masyarakatnya. Bahkan banyak para pemimpin di Negara ini mulai dari Kepling, Kades, Camat, Bupati, bahkan Presidan sudah pernah melaksanakan ibadah Haji.

Seyogianya, pemimpin menyadari betul akan hak-hak masyarakat, agar anggota masyarakat menjalankan peran dan kewajibannya terhadap program-program pemimpinnya. Diharapkan peran masyarakat sepulang melaksanakan ibadah haji mampu menjadi pemimpin atau menjadi teladan yang  membawa perubahan di lingkungan sekitar guna terwujudnya masyarakat yang sejahtera baik dari ilmunya, imannya, akhlaknya, semangatnya serta ekonominya.

Dalam mengelola masyarakat, maka diperlukan seorang pemimpin yang berkarakter dan senantiasa menjadikan Rasulullah saw. sebagai role model (teladan) dalam menjalankan roda pemerintahan. Salah satu ciri masyarakat madani adalah terbukanya ruang publik untuk menyuarakan aspirasi masyarakat terhadap kinerja pemimpinnya. Menunaikan hak-hak masyarakat serta menjalankan kewajiban dengan penuh amanah dan tanggung jawab. Selain itu, peran masing-masing pemimpin sangat dibutuhkan dalam mengelola masyarakat menuju kesejahteraan, bukankah dalam Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya”

Wallahua’lam bisshowabi...
Semoga Bermanfaat.

*Penulis adalah guru PAI di SMA Negeri 3 Medan