Minggu, 11 September 2016

HAJI : MENGELOLA MASYARAKAT MENUJU KESEJAHTERAAN UMAT





Oleh: Ummi Mawaddah, SPd.I

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (Q.S Al-Hajj : 27-18)

Sistem sosial Islam memiliki ciri yang khas, yakni hak berbanding lurus dengan kewajiban. Islam tidak menghendaki jika pengambilan hak tidak sesuai dengan pelaksanaan kewajiban, begitu pula sebaliknya. Islam mengatur tentang hak dan kewajiban dalam kehidupan, seperti hamba kepada Tuhan, anak kepada orang tua, pemimpin kepada masyarakat dan sebagainya. Tingkat kesadaran dalam menjalankan kewajiban salah satunya dipengaruhi oleh besarnya hak yang diterima. Hak menjadi motivasi penting yang mendorong seseorang melakukan kewajibannya sebaik mungkin. Apabila seorang pemimpin ingin sukses menjalankan program-programnya maka ia harus menunaikan hak-hak anggotanya. Besarnya hak yang diperoleh anggotanya akan mempengaruhi tingkat kesadaran anggota dalam menjalankan kewajiban.

Ibadah haji merupakan satu-satunya ibadah yang dalam satu waktu dan satu tempat melibatkan kaum muslimin dalam jumlah yang besar. Tidak mudah mengelola manusia dalam jumlah yang besar dengan berbagai karakter yang ada. Rasulullah saw. ketika menunaikan ibadah haji diikuti sekitar seratus ribu jamaah. Suatu jumlah jamaah yang cukup besar pada waktu itu.Dalam pelaksanaan ibadah haji Rasulullah saw bersabda “Ambillah (contohlah) oleh kalian dariku dalam ibadah jahi kalian”. Dalam pelaksanaan ibadah haji maka kita meneladani kepemimpinan Rasulullah saw. yang pada saat itu memimpin seluruh para jamah haji, adapun nilai-nilai kepemimpinan dari Nabi Muhammad saw dalam mengelola umat muslim adalah:

1.      Pemimpin adalah qudwah (teladan)
Keteladanan adalah cara yang paling efektif dalam mensukseskan suatu kepemimpinan. Tidak menguras energi dengan mengobral kata0kata namun meunjukkan dengan sikap dan perbuatan nyata. Keteladanan ibarat tonggak, dimana bayang-banyang akan selalu mengikuti tonggak tersebut, “Kaifa yastaqimu al dzillu wa al’uudu a’waj”, bagaimana mungkin bayangan akan lurus bila tonggaknya bengkok. Nilai-nilai keteladanan Nabi saw. dalam melaksanakan ibadah haji dapat dilihat dalam HR.Shahih Bukhari, saat tahallul diperbolehkan dengan cara memotong rambut (taqshir) atau menggunduli rambut kepala (halaq). Tapi Rasulullah saw. menganjurkan untuk melakukan halaq serta mendoakan mereka yang melakukan halaq.. Rasulullah tidak hanya menganjurkan para sahabat, tapi beliau juga melakukan halaq yakni menggunduli semua rambutnya.

2.      Mengarahkan jamaah kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran
Tugas Rasulullah saw. sebagai Nabi utusan Allah swt. adalah menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran baik pada saat pelaksanaan ibadah haji maupun tidak saat melaksanakan jahi, karena kemungkaran dapat terjadi kapanpun dan dimanapun. Diantara peran amar ma’ruf dan nahi munkar yang dilakukan Rasulullah saw. pada saat ibadah haji dapat dilihat dalam Shahih Bukhari, bahwa pada saat thawaf beliau melihat seseorang mengikat tangannya dengan tali atau benang dan dihubungkan dengan orang lain. Nabi Muhammad memotong tali itu dan mengatakan , “Tuntunlah ia dengan tangannya”

3.      Pemimpin yang Tawadhu’
Dalam pandangan Islam kepemimpinan itu merupakan taklif (beban) bukan tasyfir (kehormatan).Tapi seringkali para pemimpin merasa terhormat dengan predikat itu dan kadang merasa tidak terbebani oleh amanah yang besar itu. Ada pemimpin yang ingin dihormati karena ia pemimpin, ada yang ingin selalu dilayani karena ia pemimpin, ada yang ingin dipahami oleh rakyatnya karena ia pemimpin, bahkan berani me-nuhankan dirinya seperti Fir’aun, “(Seraya) berkata: Akulah Tuhanmu yang paling tinggi” QS. An-Nazi’at : 24.
Dalam pelaksanaan ibadah haji, Rasulullah saw. sangat arif dan tawadhu terhadap sahabat dan jamaah haji. Sebagaimana dalam Shahih Buhkari, ketika Al-Abbas, paman Rasulullah saw. menawarkan kepada beliau minuman yang berbeda dengan jamaahnya, Rasulullah saw. menolak dan meminta minuman yang sama dengan yang dinikmati oleh jamaahnya.

4.      Pemimpin yang Kasih Sayang
Islam adalah agama yang rahmat bagi seluruh alam. Nabi Muhammad saw. merupaka pembawa rahmat dan penuh dengan kasih sayang, termasuk dalam pelaksanaan ibadah haji. Ketika Rasulullah saw mempersilahkan jamaah yang lemah untuk meninggalkan Mudzdalifah pada malam hari agar sampai di Mina mendahului yang lain sehingga mampu melempar jumrah Aqabah dengan leluasa agar tidak berdesakan dengan yang lain. Sikap yang ditunjukkan Nabi saw. merupakan bentuk kasih sayangnya kepada jamaah yang sudah tua renta, sekaligus rahmat bagi umat manusia lainnya.

Disamping keteladanan kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Rasulullah, sesungguhnya haji memiliki pengaruh yang positif bagi yang melaksanakannya saat kembali ke tanah air. Dalam sejarah benyak dikisahkan bahwa tokoh-tokoh dan para pemimpin pergerakan masyarakat di Indonesia adalah orang-orang yang memiliki pengalaman beribadah haji, atau belajar di tanah suci serta menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Bahkan dahulu, kepemimpinan sosial berada di tangan para haji. Setelah kembali dari tanah suci mereka mengambil peran-peran strategis ditengah-tengah masyarakatnya. Bahkan banyak para pemimpin di Negara ini mulai dari Kepling, Kades, Camat, Bupati, bahkan Presidan sudah pernah melaksanakan ibadah Haji.

Seyogianya, pemimpin menyadari betul akan hak-hak masyarakat, agar anggota masyarakat menjalankan peran dan kewajibannya terhadap program-program pemimpinnya. Diharapkan peran masyarakat sepulang melaksanakan ibadah haji mampu menjadi pemimpin atau menjadi teladan yang  membawa perubahan di lingkungan sekitar guna terwujudnya masyarakat yang sejahtera baik dari ilmunya, imannya, akhlaknya, semangatnya serta ekonominya.

Dalam mengelola masyarakat, maka diperlukan seorang pemimpin yang berkarakter dan senantiasa menjadikan Rasulullah saw. sebagai role model (teladan) dalam menjalankan roda pemerintahan. Salah satu ciri masyarakat madani adalah terbukanya ruang publik untuk menyuarakan aspirasi masyarakat terhadap kinerja pemimpinnya. Menunaikan hak-hak masyarakat serta menjalankan kewajiban dengan penuh amanah dan tanggung jawab. Selain itu, peran masing-masing pemimpin sangat dibutuhkan dalam mengelola masyarakat menuju kesejahteraan, bukankah dalam Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya”

Wallahua’lam bisshowabi...
Semoga Bermanfaat.

*Penulis adalah guru PAI di SMA Negeri 3 Medan