Oleh: Ummi Mawaddah, SPd.I
“Dan
berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang
kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari
segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi
mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan
atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka
makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan
orang-orang yang sengsara dan fakir.” (Q.S
Al-Hajj : 27-18)
Sistem
sosial Islam memiliki ciri yang khas, yakni hak berbanding lurus dengan
kewajiban. Islam tidak menghendaki jika pengambilan hak tidak sesuai dengan
pelaksanaan kewajiban, begitu pula sebaliknya. Islam mengatur tentang hak dan
kewajiban dalam kehidupan, seperti hamba kepada Tuhan, anak kepada orang tua,
pemimpin kepada masyarakat dan sebagainya. Tingkat kesadaran dalam menjalankan
kewajiban salah satunya dipengaruhi oleh besarnya hak yang diterima. Hak
menjadi motivasi penting yang mendorong seseorang melakukan kewajibannya sebaik
mungkin. Apabila seorang pemimpin ingin sukses menjalankan program-programnya
maka ia harus menunaikan hak-hak anggotanya. Besarnya hak yang diperoleh
anggotanya akan mempengaruhi tingkat kesadaran anggota dalam menjalankan
kewajiban.
Ibadah
haji merupakan satu-satunya ibadah yang dalam satu waktu dan satu tempat
melibatkan kaum muslimin dalam jumlah yang besar. Tidak mudah mengelola manusia
dalam jumlah yang besar dengan berbagai karakter yang ada. Rasulullah saw.
ketika menunaikan ibadah haji diikuti sekitar seratus ribu jamaah. Suatu jumlah
jamaah yang cukup besar pada waktu itu.Dalam pelaksanaan ibadah haji Rasulullah
saw bersabda “Ambillah (contohlah) oleh kalian dariku dalam ibadah jahi
kalian”. Dalam pelaksanaan ibadah haji maka kita meneladani kepemimpinan
Rasulullah saw. yang pada saat itu memimpin seluruh para jamah haji, adapun
nilai-nilai kepemimpinan dari Nabi Muhammad saw dalam mengelola umat muslim
adalah:
1.
Pemimpin
adalah qudwah (teladan)
Keteladanan adalah cara yang paling efektif dalam mensukseskan
suatu kepemimpinan. Tidak menguras energi dengan mengobral kata0kata namun
meunjukkan dengan sikap dan perbuatan nyata. Keteladanan ibarat tonggak, dimana
bayang-banyang akan selalu mengikuti tonggak tersebut, “Kaifa yastaqimu al
dzillu wa al’uudu a’waj”, bagaimana mungkin bayangan akan lurus bila
tonggaknya bengkok. Nilai-nilai keteladanan Nabi saw. dalam melaksanakan ibadah
haji dapat dilihat dalam HR.Shahih Bukhari, saat tahallul diperbolehkan dengan
cara memotong rambut (taqshir) atau menggunduli rambut kepala (halaq).
Tapi Rasulullah saw. menganjurkan untuk melakukan halaq serta
mendoakan mereka yang melakukan halaq.. Rasulullah tidak hanya
menganjurkan para sahabat, tapi beliau juga melakukan halaq yakni
menggunduli semua rambutnya.
2.
Mengarahkan
jamaah kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran
Tugas Rasulullah saw. sebagai Nabi utusan Allah swt. adalah menyeru
kebaikan dan mencegah kemungkaran baik pada saat pelaksanaan ibadah haji maupun
tidak saat melaksanakan jahi, karena kemungkaran dapat terjadi kapanpun dan
dimanapun. Diantara peran amar ma’ruf dan nahi munkar yang dilakukan Rasulullah
saw. pada saat ibadah haji dapat dilihat dalam Shahih Bukhari, bahwa pada saat
thawaf beliau melihat seseorang mengikat tangannya dengan tali atau benang dan
dihubungkan dengan orang lain. Nabi Muhammad memotong tali itu dan mengatakan ,
“Tuntunlah ia dengan tangannya”
3.
Pemimpin
yang Tawadhu’
Dalam pandangan Islam kepemimpinan itu merupakan taklif (beban)
bukan tasyfir (kehormatan).Tapi seringkali para pemimpin merasa
terhormat dengan predikat itu dan kadang merasa tidak terbebani oleh amanah
yang besar itu. Ada pemimpin yang ingin dihormati karena ia pemimpin, ada yang
ingin selalu dilayani karena ia pemimpin, ada yang ingin dipahami oleh
rakyatnya karena ia pemimpin, bahkan berani me-nuhankan dirinya seperti
Fir’aun, “(Seraya) berkata: Akulah Tuhanmu yang paling tinggi” QS.
An-Nazi’at : 24.
Dalam pelaksanaan ibadah haji, Rasulullah saw. sangat arif dan
tawadhu terhadap sahabat dan jamaah haji. Sebagaimana dalam Shahih Buhkari,
ketika Al-Abbas, paman Rasulullah saw. menawarkan kepada beliau minuman yang
berbeda dengan jamaahnya, Rasulullah saw. menolak dan meminta minuman yang sama
dengan yang dinikmati oleh jamaahnya.
4.
Pemimpin
yang Kasih Sayang
Islam adalah agama yang rahmat bagi seluruh alam. Nabi Muhammad
saw. merupaka pembawa rahmat dan penuh dengan kasih sayang, termasuk dalam
pelaksanaan ibadah haji. Ketika Rasulullah saw mempersilahkan jamaah yang lemah
untuk meninggalkan Mudzdalifah pada malam hari agar sampai di Mina mendahului
yang lain sehingga mampu melempar jumrah Aqabah dengan leluasa agar tidak
berdesakan dengan yang lain. Sikap yang ditunjukkan Nabi saw. merupakan bentuk
kasih sayangnya kepada jamaah yang sudah tua renta, sekaligus rahmat bagi umat
manusia lainnya.
Disamping
keteladanan kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Rasulullah, sesungguhnya haji
memiliki pengaruh yang positif bagi yang melaksanakannya saat kembali ke tanah
air. Dalam sejarah benyak dikisahkan bahwa tokoh-tokoh dan para pemimpin
pergerakan masyarakat di Indonesia adalah orang-orang yang memiliki pengalaman
beribadah haji, atau belajar di tanah suci serta menunaikan rukun Islam yang
kelima ini. Bahkan dahulu, kepemimpinan sosial berada di tangan para haji.
Setelah kembali dari tanah suci mereka mengambil peran-peran strategis
ditengah-tengah masyarakatnya. Bahkan banyak para pemimpin di Negara ini mulai
dari Kepling, Kades, Camat, Bupati, bahkan Presidan sudah pernah melaksanakan
ibadah Haji.
Seyogianya,
pemimpin menyadari betul akan hak-hak masyarakat, agar anggota masyarakat
menjalankan peran dan kewajibannya terhadap program-program pemimpinnya.
Diharapkan peran masyarakat sepulang melaksanakan ibadah haji mampu menjadi
pemimpin atau menjadi teladan yang
membawa perubahan di lingkungan sekitar guna terwujudnya masyarakat yang
sejahtera baik dari ilmunya, imannya, akhlaknya, semangatnya serta ekonominya.
Dalam
mengelola masyarakat, maka diperlukan seorang pemimpin yang berkarakter dan senantiasa
menjadikan Rasulullah saw. sebagai role model (teladan) dalam
menjalankan roda pemerintahan. Salah satu ciri masyarakat madani adalah
terbukanya ruang publik untuk menyuarakan aspirasi masyarakat terhadap kinerja
pemimpinnya. Menunaikan hak-hak masyarakat serta menjalankan kewajiban dengan
penuh amanah dan tanggung jawab. Selain itu, peran masing-masing pemimpin
sangat dibutuhkan dalam mengelola masyarakat menuju kesejahteraan, bukankah
dalam Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap
pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya”
Wallahua’lam
bisshowabi...
Semoga
Bermanfaat.
*Penulis
adalah guru PAI di SMA Negeri 3 Medan
