Secara sederhana agar
terlaksananya pembelajaran maka harus ada pendidik, peserta didik dan materi
yang diajarkan. Namun dalam beberapa materi pelajaran tentunya guru tidak hanya
memberikan konsep-konsep pemahaman dan
nalar siswa, namun guru harus mampu menampilkan apa yang harus diajarkan
melalui sikap dan pengalaman guru yang harus diajarkan diperlihatkan kepada
peserta didik,agar peserta didik dapat meneladani perilaku-perilaku yang ditampilkan
oleh guru dalam keseharian.
Secara etimologi dalam
Kamus Besara Bahasa Indonesia, kata “teladan” memiliki arti sesuatu yang patut
ditiru atau baik untuk dicontoh tentang sifat, perbuatan, kelakuan dan
sebagainya. Keteladanan adalah cara yang paling efektif dalam mensukseskan
suatu kepemimpinan. Tidak menguras energi dengan mengobral kata-kata. Bahasa
keteladanan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan. “lisanul hal afshohu min lisanil maqal” (bahasa
kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Keteladanan ibarat tonggak, dimana
bayangan akan mengukuti secara alamiah sesuai dengan keadaan tonggak tersebut. Apabila tonggak
tersebut lurus, maka lurus pula bayangan, apabila miring tonggak tersebut
miring, maka miring pula bayangannya. “kaifa
yastaqimu azzilunwanal udunawaj” (bagaimana mungkin bayangan akan lurus
bila tonggaknya bengkok”
Mendidik dengan contoh
(keteladanan) adalah suatu metode pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya.
Segala yang di contohkan oleh Rasulullah saw. dalam kehidupannya merupakan
cerminan kandungan Alquran secara utuh sebagaimana firman Allah swt :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”
(Q.S. Al-Ahzab : 21)
Gagasan
mengenai pendidik sebagai teladan, sebagaimana Nabi menjadi uswah al-hasanah,
sekalipun tidak seratus persen meniru Nabi saw, tetapi paling tidak memiliki
akhlak yang dapat diterima masyarakat Islam merupakan sesuatu yang perlu
dipertahanklan, mulai dari segi moral keilmuan sampai pada perkataan,
perbuatan, pergaulan bahkan dalan berbusana. Adalah tidak wajar jika seorang
pendidik Muslimah misalnya berani tampil sebagai pendidik, padahal dia masih
gemar menggunakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dihadapan yang
bukan muhrimnya.
Sebagai
pendidik ideal, Rasulullah saw. juga memiliki akhlak yang mulia, selanjutnya
deskripsi kepribadian Rasulullah yang wajib diteladani dapat dilihat dari empat
aspek yaitu:
1.
Kesempurnaan bentuk penciptaan
Rasulullah saw. meliputi : Rasulullah memiliki sikap yang tenang, bersikap
terbuka, memiliki kebiasaan menerima (menyambut) siapapun dengan baik, mampu
menjadikan hati manusia cendrung untuk selalu mengikuti beliau, patuh terhadap
keputusan beliau, serta gigih dan tabah dalam menanggung penderitaan dan musibah.
2.
Kesempurnaan akhlak Rasulullah saw.
meliputi: Kekuatan akal, ketajaman perasaan dan ketetapan firasat, tanggunh
dalam menghadapi kesulitan, zuhud, qana’ah, tawadhu’, santun dan
tenang dalam menghadapi persoalan, menajga dan menpati janji.
3.
Kesempurnaan perkataan Rasulullah saw.
meliputi: Rasulullah telah diberi kesempurnaan oleh Allah swt. berupa hikmah
yang nyata dan ilmu pengetahuan yang melimpahruah, memiliki kapabilitas memori
hafalan yang sangat kuat, kemampuan Rasulullah saw. dalam merumuskan ketentuan-ketentuan
hukum berdasarkan argumen-argumen dan alasan-alasan yang kuat dan jelas, serta
dapat diterima oleh akal sehat yang rasional, selalu menjawab setiap pertanyaan
dengan kata-kata yang sangat jelas, selalu terhindar dari kesalahan berbicara
serta tidak pernah berdusta dan sangat selektif dalam memilih kosa kata
4.
Kesempurnaan perilaku Rasulullah
saw.meliputi: Rasulullah saw. memiliki perangai yang sangat baik dan benar,
senantiasa berlaku adil dan tidak pilih kasih, selalu menganjurkan sahabatnya bersikap
netral dalam menyikapi dunia dan akhirat, menjelaskan petunjuk agama dan konsekuensinya,
sangat gigih dalam menghadapi musuhnya, memiliki sifat dermawan dan sangat
pemurah.[1]
Demikian deskripsi
kepribadian Rasulullah saw. yang sangat sempurna, walaupun tidak ada yang dapat
menyerupai pribadi beliau, sudah seharusnya sebagai seorang pendidik dapat
meneladani nilai-nilai pribadi beliau yang dapat diterima di lingkungan
sekolah, seperti perbuatan, ucapan, penampilan dan cara menghukum dan memberi
penghargaan kepada peserta didik yang pantas, khususnya saat mengajar dan
berada dihadapan peserta didik maupun pendidik lainnya.
Maka dapat disimpulkan
keteladanan adalah segala keadaan seseorang yang patut atau pantas untuk ditiru
atau diikuti dalam melakukan kebaikan yang sesuai dengan nilai-nilai dan
norma-norma yang berlaku, sebagai seorang pendidik sudah seharusnya memiliki
kepribadian yang terpuji yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Untuk itu jika
seorang guru ingin menjadi teladan dan memiliki kepribadian yang mulia
hendaklah meneladani kepribadian Rasulullah saw sebagai pendidik ideal.
Nah,
lalu bagaimanakah membentuk akhlakul karimah siswa?
Menutut Dr,Ratna
megawangi, Ph.D seorang feminis Indonesia dan pelopor pengembangan pendidikan
holistik di Indonesia menjelaskan, ada 3 tahapan dalam membentuk karakter atau
akhlakul karimah siswa:
1.
moral knowing, memahamkan dengan baik
pada anak arti kebaikan
2.
moral feeling, membangun kecintaan
berprilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk berprilaku
baik
3.
moral action, bagaimana membuat pengetahuan
moral menjadi tindakan nyata. sehingga akan terbentuk yang namanya moral
behaviour, yakni kebiasaan berprilaku baik .
Jauh berabad-abad silam
Islam telah memperhatikan metode pembentukan akhlakul karimah, berlandaskan firman Allah swt. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu
dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl :125)
Pada ayat tersebut
maksud dari “Hikmah” ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan
antara yang hak dengan yang bathil. Ada tiga cara dalam memberikan pengajaran
kepada anak. pertama dengan hikmah, kedua dengan memberikan pelajaran yang baik
dan ketiga dengan berdebat atau berdiskusi dengan cara yang baik pula.
Seyogianya para pendidik mampu mengamalkan ayat tersebut dalam menjalankan
tugasnya yang mulia, yakni: mencerdaskan anak bangsa. (Cerdas intelektual,
cerdas spiritual dan cerdas emosional).
Akhirnya, Keteladanan
adalah perilaku yang terpuji dan disenangi karena sesuai dengan nilai-nilai
kebaikan dan kebenaran. Menjalankan keteladanan merupakan cara yang bisa
dulakukan para pendidik dalam memotivasi para siswa untuk lebih gigih dalam
berjuang, giat dalam belajar, rajin dalam berusaha dan tekun dalam beribadah
menuju masa depan yang cerah dan menjanjikan, sehingga diharapkan mampu
terwujudnya generasi Islam yang memiliki Akhlakul karimah.
Wallahua’lam
bisshowabi......
SELAMAT
HARI GURU KE 71 TAHUN.
“Tetaplah
menjadi Teladan, dimanapun dan sampai kapanpun”
ig : @ummimawaddah94
twitter : ummimawaddah / @ummimawaddah94
fb : Ummi Mawaddah Twelsafor
BBM : D63630D7
email : ummimawaddah94@gmail.com
[1]H. Mochtar
Zoerni. 2012. 40 Metode Pendidikan
dan Pengajaran Rasulullah saw. Bandung:Irsyad Baitussalam, h. 52.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar