Selasa, 12 Juli 2016

Tradisi Mengingat Mati Di Hari yang Fitri






Hari raya Idulfitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam, setelah berpuasa penuh sebulan lamanya, menahan lapar dan haus serta menahan nafsu, memperbanyak amal ibadah dan lain sebagainya. Hari dimana umat Islam berkumpul bersama sanak saudara, tertawa, bergembira saling bermaafan. Tak lupa juga “mudik” menjadi hal yang sakral dalam berlebaran. Ternyata aplikasi video call dan kecanggihan teknologi lainnya tak bisa menggantikan momen kebahagiaan saat berjumpa dengan sanak saudara.

Masih dalam suasana Lebaran, namun beberapa hari setelah melaksanakan salat Idulfitri banyak kabar duka yang datang silih berganti. Sudah tiga teman yang mengatakan “Hari raya tahun ini banyak orang yang meninggal ya...”. Saya rasa bukan hanya saat-saat lebaran saja banyak orang yang meninggal, tapi setiap hari ada ratusan bahkan ribuan orang yang meninggal di belahan bumi lainnya. Hanya saja kabar duka yang hari ini terjadi ada diantara saudara, teman atau kerabat dekat kita. Berbagai macam sebab meninggalnya, ada  karena kecelakaan, ada karena sakit, bahkan ada juga yang sedang sehat, malam harinya meninggal. Semoga Allah swt. menerima amal ibadah mereka dan meninnggal dalam keadaan Husnul Khotimah. Aamiin... (Allahummaghfirlahum warhamhum wa’aafihi wa’fu’anhum)

Ada beberapa hal yang menjadi tradisi masyarakat Indonesia pada saat lebaran, yaitu tradisi mudik dan halal bi halal. Tapi kali ini ada hal baru yang harus dijadikan sebagai tradisi dalam perayaan hari raya Idulfitri, yaitu tradisi mengingat mati. Kalau tradisi mudik dan halal bihala dilakukan secara beramai-ramai, namun tradisi mengingat mati dilakukan secara sendiri-sendiri, yakni dengan muhasabah diri. Belum tentu di hari yang Fitri tahun depan kita bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan sanak saudara. Ketika “mengingat mati” sudah menjadi tradisi, maka kita akan lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih berhati-hati dalam bertindak, serta selalu menjaga kualitas ibadah sebagaimana kita beribadah pada saat bulan Ramadhan.

Bisa jadi kita tidak lagi bertemu dengan Ramadhan tahun depan atau bisa jadi kita tidak sampai bertemu dengan hari raya Idulfitri tahun depan. Kematian tak pandang usia, kematian juga tidak bisa diprediksi kapan dan dimana terjadinya, “Maka jika datang waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan mendahulukannya sedikitpun” (QS. An-Nahl: 61) , namun kematian pasti akan terjadi. “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan” (QS. Al-‘Ankabut: 57). Maka sudah seharusnya kita beramal dengan sebaik baiknya dalam menghadapi kematian “Maha suci Allah yang menguasai segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk :1-2).

Dalam tradisi mengingat mati di hari yang Fitri ini mari kita bersama-sama saling memaafkan dan selalu menjaga hubungan baik dengan manusia (silaturrahmi, tolong menolong, dll.) dan selalu menjaga hubungan baik dengan Allah swt. (sholat tepat waktu, puasa, taubat, menjaga niat, dll.). Sebagaimana pedoman dalam menjalin hubungan baik dengan Allah (Hablum minallah) dan menjalin hubungan baik dengan manusia (Hablum minannas)  “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, Ibnu sabildan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An-Nisaa’ : 36).

Wallahua’lam...
Semoga Bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar