Senin, 20 Juni 2016

RESENSI BUKU : Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid Badiuzzaman Said Nursi






Judul                : Api Tauhid
Penulis              : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit            : Republika
Cetakan           : I, Dzulhijah 1435 H
Tebal                : 573 halaman

 Membaca novel Api Tauhid kita akan terbawa ke dalam suasana tiga Negara, Benua dan Budaya, yakni  Indonesia, Turki dan Madinah. Novel penggugah jiwa ini mengisahkan sejarah perjalanan dakwah sang Mujaddid Badiuzzaman Said Nursi yang dikemas dalam perjalanan asmara antara Fahmi dan Nuzula.
Kyai Arselan pemilik Pesantren paling besar di Yosolilangun dan merupakan ulama cukup terkenal di Kabupaten Lumajang ingin menjodohkan putrinya yang bernama Nuzula dengan seorang pemuda yang berasal dari Jawa Timur, yang cerdas, tampan, hafidz dan mahasiswa S2 di Universitas Islam Madinah yang bernama Fahmi. Ketika istikharah Fahmi belum tuntas, keluarga Kyai ingin menyegerakan proses lamaran kepada Fahmi. Namun siapa sangka Nuzula yang merupakan gadis modern pada umumnya yang terkontaminasi perubahan budaya di kota Metropolitan itu pun sudah mengenal pacaran. Hal itu pula yang nyaris membuat Fahmi binasa dan membuatnya tak sadarkan diri.
Menyadari masalah tersebut cukup menekan batinnya, Fahmi pun kembali ke Madinah untuk menenangkan diri dan bertekad mengkhatamkan 40 kali hafalannya di Masjid Nabawi. Namun apa yang terjadi ? Sebelum selesai mengkhatamkan 40 kali hafalannya ia pun jatuh sakit. Ali dan Subki kedua sahabatnya dari Indonesia yang merawatnya selama di Prience Mohammed Bin Abdul Aziz Hospital di bantu oleh Hamzah sahabatnya yang berasal dari Turki. Memahami bahwa Fahmi mempunyai masalah, Hamzah mengajaknya berlibur ke Turki, melihat keindahan alam Turki dan mengenang jejak perjalanan Badiuzzaman Said Nursi.
Badizzaman Said Nursi dilahirkan pada 1877 di Desa Nurs, Provinsi Bitlis, Anatolia Timur dan meninggal pada 20 Maret 1960 di Sanlurfa. Pada masa ini muncul tokoh-tokoh besar umat Islam dengan karakter dan strategi perjuangan masing-masing dalam menegakkan kalimat Allah. Seperti di India dan Pakistan muncul Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawy (1886-1948) dan Muhammad Ali Jinnah (1876-1948). Di Libya muncul Syaikh Omar Mukhtar (1858-1931) yang mendapat julukan  The Lion of Deser from Libya. Di Mesir muncul Syaikh Mustafa Al-Maraghi (1881-1945) dan Syaikh Hasan Al Banna (1906-1949). Di Palestina muncul Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini (1895-1974) merupakan mufti besar Palestina yang mendukung kemerdekaan Indonesia pada masa itu. Di Aljazair muncul Syaikh Abdul Hamid bi Badis atau dikenal dengan Ibnu Badis (1889-1940). Dan di Indonesia yang tak kalah dengan dunia Islam lainnya, hadir tokoh-tokoh pejuang Hadratus Syaikh Hasim Asy’ari (1875-1947), dan Kyai Haji Ahmad Dahlan (1869-1928).
Badiuzzaman Said Nursi berkarakter tegas, berani, jujur, cinta ilmu dan menjaga pandangannya dari segala yang bukan haknya serta santun dan takzim kepada orangtua dan guru. Menginjak usia 15 tahun sudah hafal puluhan kitab referensi penting dan banyak mengalahkan ilmu ulama-ulama yang lebih senior darinya. Hal tersebut tak serta merta membuatnya merasa puas, ia harus berjalan antar daerah hanya untuk mengembara ilmu dan mengamalkan ilmunya.
Perjuangan Said Nursi di bidang pendidikan adalah mengusulkan sistem pendidikan yang tidak memisahkan ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama dalam pembelajarannya, melainkan mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu umum di lembaga-lembaga pendidikan. Selain itu ia juga memperhatikan kesucian jiwa dan kehalusan budi (sufisme) dalam pendidikan sehingga terciptanya manusia yang berakhlakul karimah. Selain itu ia ingin mendirikan Medresetuz (halaman 327) yakni sebuah Universitas yang memadukan multi-keahlian. Tak ayal, idenya tersebut membawa ia masuk ke dalam jeruji besi karena dianggap menghina Sultan.
Adapun semangat cinta tanah air yang di tunjukkan Said Nursi adalah memberikan pencerahan kepada masyarakat bahwa untuk mencapai kemajuan, kemakmuran, ketentraman, kesejahteraan, dan keamanan adalah dengan mengamalkan lima Pilar utama, yaitu: Pertama: persatuan hati, Kedua: cinta bangsa, Kegita: Pendidikan, Keempat: memaksimalkan daya dan upaya manusia, Kelima: menghentikan pemborosan dan pemubadziran (halaman 334) dan masih banyak lagi perjuangan yang dilakukan Badiuzzamna Said Nursi untuk menegakkan Tauhid sekalipun harus menghadapi tentara dan pemimpin yang dzalim.
Pada saat usia remaja, apakah Said Nursi pernah jatuh cinta??? Pertanyaan Aysel kepada Hamzah dalam sebuah perjalanan menelusuri jejak Said Nursi.
“.... sesungguhnya Syaikh Badiuzzaman Said Nursi pada masa remajanya juga jatuh cinta. Hnaya saja catuh cintanya berbeda dengan para remaja pada umumnya zaman sekarang. Jatuh cintanya Syaikh Said Nursi saat remaja adalah jatuh cinta pada ilmu, jatuh cinta pada ibadah dan dakwah....” (halaman 239). Lalu apakah Said Nursi akan menikah? Dengan siapa? dengan Wanita seperti apa? Novel ini akan menjawab itu semua.
Kehadiran novel Api Tauhid  ini sangat pas dengan perkembangan dunia Islam saat ini. Pada satu sisi saat perkembangan dunia Islam dihadapkan pada persoalan radikalisme dan kaburnya orientasi peradaban, di sisi lain muncul perkembangan baru dengan hadirnya dunia Islam sebagai kekuatan ekonomi dan politik alternatif dunia yang menjanjikan. Prediksi hadirnya kekuatan baru ekonomi dunia yang dipelopori oleh negara-negara seperti Meksiko, Indonesia, Nigeria, dan Turki (MINT), adalah fenomena masa depan yang menggembirakan. Namun semua itu akan terealisasi apabila dunia Islam mampu menyelesaikan persoalan-persoalan internalnya yang berpotensi menguburkan cita-cita yang sudah di depan mata. Api Tauhid ini semacam bacaan reflektif terhadap perjuangan membangun peradaban Islam masa depan dan mengisi jiwa-jiwa para pejuang peradaban.
Ini bukan hanya novel sejarah yang menyadarkan, tapi juga novel cinta yang menggetarkan. Novelis No.1 Indonesia yang di nobatkan oleh INSANI Universitas Diponegoro, Habiburrahman El Shirazy atau yang dikenal dengan kang Abik mengemas kisah cinta di dalam novel ini begitu harmoni. Yah, kisah cinta yang suci selalu menciptakan keajaiban dan keteladanan. Sebelum menulis ini, saya bermimpi bertemu Kang Abik dalam suatu seminar... Semoga bisa berjumpa langsung dengan beliau jika Allah mengizinkan... dan harapan saya semoga kita juga bisa mengunjungi kota kelahiran Badiuzzaman Said Nursi... In syaa Allah

Selamat Membaca....
Peresensi : Ummi Mawaddah

4 komentar:

  1. Seoalh-olah peresensi merasakan pejalanan panjang dalam kisah api tauhid itu. Luar biasa. Semangat

    BalasHapus
  2. MasyaAllah.....luar biasa..... Ingin sekali memiliki Buku Api Tauhid Tersebut....

    BalasHapus
  3. MasyaAllah.....luar biasa..... Ingin sekali memiliki Buku Api Tauhid Tersebut....

    BalasHapus
  4. kalau masih ada...bisa dibeli di gramedia... kalau sudah tidak ada bisa pinjam dari ana...

    semangat berbagi ilmu... in syaa allah berkah...

    BalasHapus