Judul : Api Tauhid
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika
Cetakan : I, Dzulhijah 1435 H
Tebal : 573 halaman
Membaca novel Api Tauhid kita akan terbawa ke dalam suasana
tiga Negara, Benua dan Budaya, yakni
Indonesia, Turki dan Madinah. Novel penggugah jiwa ini mengisahkan
sejarah perjalanan dakwah sang Mujaddid Badiuzzaman Said Nursi yang dikemas
dalam perjalanan asmara antara Fahmi dan Nuzula.
Kyai Arselan pemilik Pesantren paling besar di Yosolilangun dan
merupakan ulama cukup terkenal di Kabupaten Lumajang ingin menjodohkan putrinya
yang bernama Nuzula dengan seorang pemuda yang berasal dari Jawa Timur, yang cerdas,
tampan, hafidz dan mahasiswa S2 di Universitas Islam Madinah yang bernama Fahmi. Ketika istikharah Fahmi belum tuntas, keluarga
Kyai ingin menyegerakan proses lamaran kepada Fahmi. Namun siapa sangka Nuzula
yang merupakan gadis modern pada umumnya yang terkontaminasi perubahan budaya
di kota Metropolitan itu pun sudah mengenal pacaran. Hal itu pula yang nyaris
membuat Fahmi binasa dan membuatnya tak sadarkan diri.
Menyadari masalah tersebut cukup menekan batinnya, Fahmi pun
kembali ke Madinah untuk menenangkan diri dan bertekad mengkhatamkan 40 kali hafalannya di
Masjid Nabawi. Namun apa yang terjadi ? Sebelum selesai mengkhatamkan 40 kali
hafalannya ia pun jatuh sakit. Ali dan Subki kedua sahabatnya dari Indonesia
yang merawatnya selama di Prience Mohammed Bin Abdul Aziz Hospital di bantu
oleh Hamzah sahabatnya yang berasal dari Turki. Memahami bahwa Fahmi mempunyai
masalah, Hamzah mengajaknya berlibur ke Turki, melihat keindahan alam Turki dan
mengenang jejak perjalanan Badiuzzaman Said Nursi.
Badizzaman Said Nursi dilahirkan pada 1877 di Desa Nurs, Provinsi
Bitlis, Anatolia Timur dan meninggal pada 20 Maret 1960 di Sanlurfa. Pada masa
ini muncul tokoh-tokoh besar umat Islam dengan karakter dan strategi perjuangan
masing-masing dalam menegakkan kalimat Allah. Seperti di India dan Pakistan
muncul Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawy (1886-1948) dan Muhammad Ali Jinnah
(1876-1948). Di Libya muncul Syaikh Omar Mukhtar (1858-1931) yang mendapat
julukan The Lion of Deser from Libya. Di
Mesir muncul Syaikh Mustafa Al-Maraghi (1881-1945) dan Syaikh Hasan Al Banna
(1906-1949). Di Palestina muncul Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini (1895-1974)
merupakan mufti besar Palestina yang mendukung kemerdekaan Indonesia pada masa
itu. Di Aljazair muncul Syaikh Abdul Hamid bi Badis atau dikenal dengan Ibnu
Badis (1889-1940). Dan di Indonesia yang tak kalah dengan dunia Islam lainnya,
hadir tokoh-tokoh pejuang Hadratus Syaikh Hasim Asy’ari (1875-1947), dan Kyai
Haji Ahmad Dahlan (1869-1928).
Badiuzzaman Said Nursi berkarakter tegas, berani, jujur, cinta ilmu
dan menjaga pandangannya dari segala yang bukan haknya serta santun dan takzim
kepada orangtua dan guru. Menginjak usia 15 tahun sudah hafal puluhan kitab
referensi penting dan banyak mengalahkan ilmu ulama-ulama yang lebih senior
darinya. Hal tersebut tak serta merta membuatnya merasa puas, ia harus berjalan
antar daerah hanya untuk mengembara ilmu dan mengamalkan ilmunya.
Perjuangan Said Nursi di bidang pendidikan adalah mengusulkan
sistem pendidikan yang tidak memisahkan ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama
dalam pembelajarannya, melainkan mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu
umum di lembaga-lembaga pendidikan. Selain itu ia juga memperhatikan kesucian
jiwa dan kehalusan budi (sufisme) dalam pendidikan sehingga terciptanya manusia
yang berakhlakul karimah. Selain itu ia ingin mendirikan Medresetuz (halaman
327) yakni sebuah Universitas yang memadukan multi-keahlian. Tak ayal, idenya
tersebut membawa ia masuk ke dalam jeruji besi karena dianggap menghina Sultan.
Adapun semangat cinta tanah air yang di tunjukkan Said Nursi adalah
memberikan pencerahan kepada masyarakat bahwa untuk mencapai kemajuan,
kemakmuran, ketentraman, kesejahteraan, dan keamanan adalah dengan mengamalkan
lima Pilar utama, yaitu: Pertama: persatuan hati, Kedua: cinta bangsa, Kegita:
Pendidikan, Keempat: memaksimalkan daya dan upaya manusia, Kelima: menghentikan
pemborosan dan pemubadziran (halaman 334) dan masih banyak lagi perjuangan yang
dilakukan Badiuzzamna Said Nursi untuk menegakkan Tauhid sekalipun harus
menghadapi tentara dan pemimpin yang dzalim.
Pada saat usia remaja, apakah Said Nursi pernah jatuh cinta???
Pertanyaan Aysel kepada Hamzah dalam sebuah perjalanan menelusuri jejak Said
Nursi.
“....
sesungguhnya Syaikh Badiuzzaman Said Nursi pada masa remajanya juga jatuh
cinta. Hnaya saja catuh cintanya berbeda dengan para remaja pada umumnya zaman
sekarang. Jatuh cintanya Syaikh Said Nursi saat remaja adalah jatuh cinta pada
ilmu, jatuh cinta pada ibadah dan dakwah....” (halaman 239). Lalu apakah Said
Nursi akan menikah? Dengan siapa? dengan Wanita seperti apa? Novel ini akan
menjawab itu semua.
Kehadiran novel Api Tauhid
ini sangat pas dengan perkembangan dunia Islam saat ini. Pada satu sisi
saat perkembangan dunia Islam dihadapkan pada persoalan radikalisme dan
kaburnya orientasi peradaban, di sisi lain muncul perkembangan baru dengan
hadirnya dunia Islam sebagai kekuatan ekonomi dan politik alternatif dunia yang
menjanjikan. Prediksi hadirnya kekuatan baru ekonomi dunia yang dipelopori oleh
negara-negara seperti Meksiko, Indonesia, Nigeria, dan Turki (MINT), adalah
fenomena masa depan yang menggembirakan. Namun semua itu akan terealisasi
apabila dunia Islam mampu menyelesaikan persoalan-persoalan internalnya yang
berpotensi menguburkan cita-cita yang sudah di depan mata. Api Tauhid ini
semacam bacaan reflektif terhadap perjuangan membangun peradaban Islam masa
depan dan mengisi jiwa-jiwa para pejuang peradaban.
Ini bukan hanya novel sejarah yang menyadarkan, tapi juga novel
cinta yang menggetarkan. Novelis No.1 Indonesia yang di nobatkan oleh INSANI
Universitas Diponegoro, Habiburrahman El Shirazy atau yang dikenal dengan kang
Abik mengemas kisah cinta di dalam novel ini begitu harmoni. Yah, kisah cinta
yang suci selalu menciptakan keajaiban dan keteladanan. Sebelum menulis ini,
saya bermimpi bertemu Kang Abik dalam suatu seminar... Semoga bisa berjumpa
langsung dengan beliau jika Allah mengizinkan... dan harapan saya semoga kita juga bisa
mengunjungi kota kelahiran Badiuzzaman Said Nursi... In syaa Allah
Selamat
Membaca....
Peresensi
: Ummi Mawaddah

Seoalh-olah peresensi merasakan pejalanan panjang dalam kisah api tauhid itu. Luar biasa. Semangat
BalasHapusMasyaAllah.....luar biasa..... Ingin sekali memiliki Buku Api Tauhid Tersebut....
BalasHapusMasyaAllah.....luar biasa..... Ingin sekali memiliki Buku Api Tauhid Tersebut....
BalasHapuskalau masih ada...bisa dibeli di gramedia... kalau sudah tidak ada bisa pinjam dari ana...
BalasHapussemangat berbagi ilmu... in syaa allah berkah...